Tampilkan postingan dengan label Voyage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Voyage. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Juli 2017

Mencicip Eropa

Karena beberapa teman saya meminta saya buat share di blog tentang cerita perjalanan ke Eropa kemarin, jadi ya now I'm trying to give it a go.

Sebenarnya saya agak bingung sih mau mulai dari mana dan mau share apa karena udah lama banget juga, jadi saya mungkin akan tulis secara highlight aja.



Saya pernah dengar pepatah yang kurang lebih bilang: "It is that feeling of willing is more powerful than the fulfillment. So, there are so many people that are really enthusiastic in wanting something but then after they get it, there's no something special," Nah, nampaknya pepatah itu ada benarnya juga. Saya nggak bilang kalau semuanya kerasa biasa aja dan nggak spesial. Tapi, karena saya (dan teman-teman) menghabiskan waktu berbulan-bulan persiapan untuk sampai di Benua Biru itu dengan susah payah nan berdarah-darah, jadinya ya semua proses dan perjuangan itu kerasa lebih berharga dan takkan tergantikan aja sih. Begitu sampai di sana, saya hanya bergumam "Oh, gini toh," hehehe. Namun, pada akhirnya, saya sadar kalau kedua "perjuangan" dan "pencapaian" punya kesan masing-masing yang sangat membekas.


Autumn leaves
Itinerary perjalanan saya (sebenernya "kami" sih, tapi karena ini blog saya jadi yaudah "saya" aja) awalnya adalah Paris-Praha (dan Teplice)-Berlin-Paris. Tapi, karena tiket promo ke Paris sudah habis, akhirnya berpindah haluan penerbangan ke Amsterdam. Kenapa ke Amsterdam padahal acaranya di Praha? Tidak lain tidak bukan karena tiket ke Amsterdam jauh lebih murah daripada ke Praha haha. Saya (of course, dan teman-teman) awalnya sempat intimidate Amsterdam banget kenapa jadinya ke Belanda dan  tak lupa kecewa karena nggak jadi mau foto-foto bikin tulisan di kertas "Kapan ke sini bareng?" dengan background Menara Eiffel. Well, itu teman saya sih yang bilang lol. Tapiiiiii, tiada sangka tiada duga, Amsterdam jadi kota terfavorit saya dan bahkan hampir semua dari kita! Saya nggak tahu persisnya sih ya kenapa malah Amsterdam jadi yang terfavorit, tapi mungkin emang gitu, semakin kita nggak punya ekspektasi tinggi sama sesuatu maka kita akan semakin nggak mudah kecewa eaa paanci.


Amsterdam dari atas tapi yg ini dari gugel
Begitu Kapten Pesawat mengumumkan pesawat akan segera landing, saya pun bersiap-siap memakai jaket karena di sana sedang Autumn alias musim gugur dan sudah hampir musim dingin (Waktu itu sempat mencapai 0 derajat celcius!). Dari ketinggian, saya lihat ke bawah bertanya-tanya kenapa bangunannya tersusun sangat sangat tertata huhu. Turun dari pesawat, saya sudah siap-siap kedinginan dong ya, eh taunya malah enggak. Kan masih di dalem bandara, ada heater-nya, angetlah #emangngeselinanaknya. Keluar dari bandara, saya, kebetulan, langsung disambut keramah-tamahan orang Belanda. Awalnya, saya nanya ke Satpam (?) Bandara tentang rute bis, setelah dikasih tahu, dia nanya (lebih tepatnya nebak) saya dari mana. Begitu tahu saya dari Indonesia, dia langsung bilang kalau dia pernah ke Indo dan sudah pengen banget mau ke Indo lagi. Wow, how ironic.


Amsterdam Schipol
Dua hari di Amsterdam, saya merasa puas. Amsterdam adalah ekspektasi saya tentang Eropa. Bangunannya klasik, rapih, lucu, berudara dingin. Lalu, ada banyak kanal alias sungai yang jadi bikin syahdu. Ditambah lagi ada banyak pesepeda berkeliaran, ya walaupun pada cepet-cepet udah kaya maling sepeda bikin kaget pas jalan. Kotanya ramai, orang-orang pada bisa bahasa Inggris jadi komunikasinya mudah, sering ketemu orang Indo, sering ketemu orang pake hijab juga. Saya sering baca blog atau cerita orang yang katanya kalau di luar negeri trus ketemu sesama muslim dan disapa Assalamualaikum itu rasanya sesuatu. Awalnya saya mikir ya make sense sih, tapi enggak nyangka bakal seterharu itu huhu. Nah, di Amsterdam ini, teman-teman saya ketemu Syahrini di Dam Square wkwkwk. Saya lagi melancong nggak tau ke mana. Malam sebelumnya, ketemu Ben Joshua pas kita lagi cari makan malam. Ini Belanda apa Indo deh.


Dam Square
Kota berikutnya adalah Praha. Dari Amsterdam ke Praha naik Flixbus soalnya jauh lebih murah daripada naik kereta atau pesawat wkwk. Naik kereta di Eropa buat budget traveler itu nggak recommended sih. Flixbus/Regiojet/Euroline adalah jawabannya bagi para kere-ers lol ya walaupun tetap lebib mahal juga kalau dibandingin bis Indo. Makanya jangan dibandingin haha.
Nah, karena saya sudah dapat banyak dengar kalau Praha itu kota yang cantik, fairytale, magical, romantis, dsb, saya jadi berekspektasi tinggi sama Praha. Entah karena ekspektasi dan fantasi saya terlalu tinggi atau gimana, saya merasa Praha nggak lebih cantik dari Amsterdam. Satu-satunya yang memenuhi ekspektasi adalah Old Town-nya. Ya emang bagus sih Old Town. Bangunan (gerejanya) sangat klasik dan gotik. Keren gitu deh. Praha ini kota terlama yang saya tempati. Orang-orangnya banyak yang nggak bisa bahasa Inggris. Saya bahkan nggak sengaja makan daging babi pas sarapan di Hotel, padahal saya udah jelas-jelas nanya ke pelayannya, "Is this beef or bacon?" doi jawab, "Beef," lalu saya langsung koar-koar ke teman-teman saya ngasih tau kalau dagingnya sapi. Eeeh taunya, pas LO saya datang dan saya make sure nanya ini sapi bukan, ternyata bukan. LO saya bilang, "I think you should change your meal because it's apparently bacon," setelah dia nanya lagi ke resto hotelnya. Tapi bacon enak btw huhu.
Karena Praha bukan kota sebesar Amsterdam, orang-orang yang saya temui di sana juga nggak seheterogen di Amsterdam. Hampir white people semua. Sangat jarang menemukan orang berhijab, jadi sekalinya ketemu, langsung berasa ketemu saudara, ramah banget. Di Praha, saya sama sekali nggak menemukan orang bersepeda atau bersepeda motor. Saya curiga di sana cuma jual mobil aja(?) Selama di Praha, saya sempat ke Teplice (masih di Ceko juga), karena ada agenda di sana. Nggak kemana-mana juga sih pas di Teplice karena seharian full acara di sana.


In Teplice
Terlepas dari kurang terpenuhinya ekspektasi saya atas Praha dan dimarahin orang sana dan hal-hal lain yang kurang mengenakkan lainnnya, Praha tetap memorable dengan kenangannya. It was worth visiting.



Old Town
Kota berikutnya yang saya kunjungi adalah Berlin. Perjalanan dari Praha ke Berlin tetap menggunakan bis. Kali ini saya pakai Regiojet. Lebih mahal dari Flixbus, tapi Regiojet ini wifi-nya nyala dan guide-nya ganteng parah. Egmn. Tapi beneran deh ya, kalau orang Bandung bilang sepertinya Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan Bandung, saya bakal bilang sepertinya Tuhan sedang bahagia ketika menciptakan orang-orang Eropa haha. Ganteng-ganteng dan cantik-cantik sejauh mata memandang huhu. Selain guide-nya, sopirnya juga ramah. Entah perasaan saya doang apa gimana, kayanya orang Jerman jauh lebih ramah daripada orang Ceko.

Urutan kunjungan saya ini kayanya merepresentasikan urutan kota yang saya sukai. Dulu saya suka berfantasi mau tinggal di Jerman. Negara Uni Eropa urutan teratas. Tapi ternyata, nggak lebih klasik dari Praha. Don't get me wrong. Ini kan opini pribadi hehe. Mungkin saya sudah semakin terbiasa dengan bangunan Eropa (yaelah gaya beut botol kecap), jadinya saya nggak melihat bangunan yang terlihat outstanding di Berlin. Malah, saya melihat Berlin ini seketika teringat Jakarta. Agak berantakan dan lebih metropolis dibanding Praha dan Amsterdam. Saya melihat beberapa spot kaya nggak terurus gitu. Eh atau lagi dibangun ya? Nggak tau lah, pokoknya menurut saya, Berlin nggak seperti dalam fantasi saya. Ya walaupun tetap dong ya, Eropa adalah Eropa. Nggak ada yang menandingi keklasikannya. Saya cuma dua hari di Berlin, jadi opini saya tentang Berlin tentu sangat terbatas. Di Berlin, orang-orangnya lebih heterogen bahkan dari Amsterdam. Sering banget menjumpai orang berhijab, ya secara imigran Turki paling banyaknya ke Jerman. Kotanya sangat ramai. Apalagi pas di Primark. Murah-murah sih soalnya cem Jolie/Sakola kalau di Jogja wkwk. Btw, kalau sistem transportasi, di ketiga kota itu mirip sih. Ada kereta bawah tanah, trem (kereta yang malang melintang di jalan), dan bis. Yang jelas, transportasi umum di sana jauh sama di Indo haha and I felt like I was cool using public transport lol. 


Typical tourist
Setelah serangkaian kunjungan itu, akhirnya saya kembali lagi ke Amsterdam karena pesawatnya dari Amsterdam. Dan nggak tahu ya, saya bahagia banget sih pas balik ke Amsterdam. Rasanya tuh kaya ya ampun akhirnya ke Amsterdam lagi dan ini udah mau balik Indo, enggak mauuuuuu.

Dari Berlin, saya sampai di Amsterdam pagi hari. Pesawat saya sore, jadi saya punya waktu seharian buat menikmati Amsterdam. Cry. Udah nggak keitung saya dan teman-teman saya bolak-balik ke Albert Hejn (Baca: Indomaret) buat beli coklat. Begitu balik ke tempat tunggu dan masih menemukan euro kita masih tersisa, kita balik lagi beli buah. Buahnya enak, akhirnya kita malakin anak-anak yang masih punya recehan euro. Patungan, beli lagi buah sampai berkali-kali. Sampai pelayannya bosen juga kita lagi kita lagi lol. Dan akhirnya kita patungan buat beli makan: Nasi Goreng Sataj Ajam. Gitu tulisannya. Lumayan enak. Tapi ya of courseeee, rasanya jauh sama yang di Indo haha mahal uga 5/6 euro gitu saya lupa.



Begitu saya selesai menulis ini, ternyata panjang uga ya. Padahal ini baru highlight. Masih ada banyak hal yang terkenang di kepala. Mungkin saya bakal bikin postingan lagi untuk cerita yang lebih detail karena masih ada hal-hal yang bikin saya merasa insightful!

Rabu, 17 Februari 2016

CCU: Short Getaways


Rasa-rasanya, beberapa kali saya ke luar kota akhir-akhir ini, alhamdulillah ada yang bayarin hehe. Beberapa bulan lalu, saya tiba-tiba dapet tawaran untuk ikut STUBA ke Malang dengan biaya Rp400.000,- sudah bersih dari biaya transportasi, makan, sampai masuk Museum Angkut. Karena waktu itu saya lagi mupeng banget buat ke Museum Angkut dan emang merencanakan pergi ke Malang yang nggak tau kapan pastinya, saya jadi nggak mau kehilangan kesempatan. Tapi karena saya lagi nggak punya duit, dengan berat hati saya menolak. Namun, jodoh emang nggak ke mana. Karena memang kursi bus masih ada yang kosong, saya jadi ditawarin buat ikut STUBA dengan potongan 50%, walaaa jadi cuma Rp200.000,- saja! Dan emang, kalau udah jodoh, mau nolak kaya gimana pun jadi bakal bisa tetep dapet. Kebetulan waktu itu saya mentas Angklung di depan Bupati Purwakarta dan alhamdulillah-nya dapet uang 'saweran' yang masing-masing individu mendapat uang Rp400.000,- dan saya pun langsung segera mengiyakan ajakan STUBA ke Malang. Whoop!

Walaupun cuma sehari aja jalan-jalan di Malang, saya sudah cukup senang apalagi akhirnya saya bisa mengunjungi Museum Angkut. Nggak nyangka kemupengan iseng saya pengen ke sana ternyata menjadi doa yang dikabulkan secepat ini wkwk. Dengan biaya yang sangat murah dan 'pelayanan' yang cukup memadai, saya merasa puas atas kunjungan ke Malang kemarin. Saya bakal nggak nolak kok kalau-kalau ada yang ngajak ke sana lagi hehe.

Berbeda dengan Malang yang bikin saya mupeng buat berlama-lama tinggal di sana karena suasananya yang adem dan cukup asri, kunjungan saya ke Jakarta ini tidak menimbulkan perasaan yang sama. Entah kenapa rasanya di Jakarta walaupun gedung-gedung tinggi terlihat di mana-mana, saya tidak begitu amazed melihat sekeliling. Mungkin karena emang saya nggak ke mana-mana juga ketika saya menginjakkan kaki di Ibu Kota. Mungkin juga akan berbeda cerita dan perasaan kalau saya mengunjungi tempat-tempat lain dan berhari-hari tinggal di sana. Kunjungan ke Jakarta ini emang nggak didesain untuk jalan-jalan sih apalagi untuk explore Jakarta. Tujuan ke sana adalah untuk nampil nari tok bareng Rampoe UGM. Check in di apartemennya pun cuma di-booking-in sehari semalem, tapi alhamdulillah apartemennya cukup nyaman dan lebih alhamdulillah lagi kami makmur dalam segi makanan. Laper dikit, langsung kenyang. Laper lagi, kenyang lagi hehe terima kasih, Tuan Rumah, semoga pernikahannya samawa.

Dan saat beberapa waktu yang lalu ke Solo pun saya nggak ngeluarin duit. Walaupun emang sih, kalau kali ini emang temen saya yang punya utang wkwk. Seharian itu saya ke Solo, agaknya saya nggak mengeluarkan uang lebih dari Rp50.000,- walaaa! Iyalah, ini masih di Jawa, coy!

Btw, dari kunjungan ke tiga kota itu saya baru menyadari ada kesamaannya, yaitu: cuma sehari. Walaupun kalau ke Malang dan Jakarta nggak literal sehari sih karena perjalanan yang cukup jauh dan memakan waktu, ya sekitar 2-3 hari lah kalau ditotal mah. To sum up, dari kunjungan ke tiga kota yang berbeda tersebut dalam waktu yang berbeda pula, ada sekelumit perspektif yang mulai muncul dari mulai lingkungan, masakan, dan orang-orang di dalamnya walaupun memang belum bisa saya generalisasikan  karena waktu kunjungan yang tidak seberapa itu. Setidaknya, saya jadi sedikit tahu dan mempunyai bayangan bagaimana orang Jawa Timur, orang Solo, dan orang Betawi berikut masakannya. Solo tentu, karena masih serumpun dengan Jogja, mempunyai cita rasa masakan manis yang saya sebagai orang Jawa Barat kurang menyukainya. Masakan Jawa Timur dan Jakarta lebih saya sukai karena cita rasanya yang lebih asin dan gurih. Berasa lagi pulang ke rumah pas saya nyicip prasmanan di Jakarta. Masakannya enak, nggak manis hehe. Dan karena keterbatasan interaksi saya dengan penduduk sekitar, saya tidak bisa memberi acuan mengenai watak penduduk dari masing-masing daerah tersebut. Yang sangat menonjol adalah logat. Di Malang, walaupun mereka sama-sama menggunakan bahasa Jawa seperti Solo, namun logat dan bahkan aksennya tentu berbeda. Solo lebih lembut. Nampaknya itu saja yang bisa saya sebutkan selain keduanya mempunyai ke-medhok-an yang berbeda. Jakarta tentu kental dengan Betawi, 'Penari kok masih di sini? Penganten ude di pelaminan. Cepet ye ke sane.' ucap seorang ibu kepada kami, penari Rampoe UGM. 

Cross cultural understanding selalu menarik minat saya untuk tahu dan experience lebih banyak lagi baik lokal maupun interlokal. Dengan begitu, pikiran saya lebih terbuka dan jauh lebih menghargai perbedaan. Klise sih, tapi, ya, perbedaanlah yang membuat dunia lebih indah jika kita menghargai satu sama lain. Dan justru dengan kita mengenal budaya, tempat, dan orang dari suku-suku lain maka kita akan semakin mencintai budaya kita sendiri.
This entry was posted in

Minggu, 27 Desember 2015

Nyolo: Da Zonkest Day



Sudah lama saya dan ciwi-ciwi merencanakan untuk liburan, tapi semuanya berujung wacana. Padahal tinggal berangkatnya aja, beberapa jam bahkan menit sebelum keberangkatan, dibatalkan dengan alasan satu dan lain hal.

Destinasi kami yang alhamdulillah nggak jadi wacana ini adalah Solo. Sejujurnya, saya nggak mupeng-mupeng banget ke Solo karena pertama, saya udah pernah ke sana dan kedua karena menurut saya Solo mirip banget sama Jogja, letak alun-alun yang nggak jauh dari masjid raya serta sekompleks sama benteng, pusat kota, dan pasar, jadi saya nggak merasakan betul experiencing new things-nya. Emang sih, tipikal tata kota di Indonesia gitu: alun-alun, masjid raya, pusat kota, dan pusat perbelanjaan. Tapi, Jogja dan Solo ini mirip banget. Alun-alunnya, masjid rayanya yang masih tradisional banget, sampai ada bentengnya. Agak berbeda dengan Cilacap yang menurut saya malah lebih mirip Cirebon. Masjid rayanya bias dibilang lebih modern dan terlihat (mencoba) megah dan alun-alunnya yang kalau malem emang rame tapi nggak ada sewa mobil-mobilan berlampu warna-warni kaya yang ada di Jogja dan Solo itu (apa sih namanya? Haha).

Balik lagi ke cerita perjalanan Solo kali ini. Dari awal saya emang udah manut aja mau pergi ke mana. Di dalem Jogja hayuk, keluar hayuk. Yang penting jalan, nggak wacana. Akhirnya usulan pergi ke Solo diterima walaupun tetep nggak bisa full team. Anehnya, sampai hari H pun kami ngggak punya tujuan pasti mau ke mana aja, cuma menyebutkan ‘ini loh di Solo ada Keraton, Benteng Vasternburg, blablabla’ tanpa benar-benar menjadawalkan habis dari situ ke mana, naik apa, ngapain aja, dan berapa lama. Dan sekarang saya sangat mengiyakan para travel blogger  yang bilang betapa pentingnya punya itinerary dalam melakukan perjalanan. Kenapa? Karena kalau nggak, kamu bakal dapet ke-zonk-an di mana-mana.

Ke-zonk-an pertama adalah salah jadwal kereta. Emang salah mengandalkan jadwal kereta bukan dengan yang paling update. Walhasil, kami yang merencanakan keberangkatan pukul 10 pagi ternyata nggak ada, terpaksa harus nunggu keberangkatan pukul 11. Kami cukup luntang-lantung di Stasiun Lempuyangan udah kaya pengungsi bencana ngegelepor di lantai yang akhirnya saking nggak tau mau ngapain jadi lipenan berjamaah bertemakan red lips.
 
Tiket Prameks YK-Solo: Rp 8.000,-
Ngegelepor di Stasiun part I
Sampai di Stasiun Purwosari
Salah satu icon kota Solo



Karena tanggal merah, super long weekend, dan musim liburan, kereta pun penuh sesak dipenuhi harum semerbak, dan tidak menyisakan tempat duduk, ngegelepor kedua pun dilakukan di dalam kereta. Ke-zonk-an berikutnya adalah ketika kami menaiki Batik Solo Trans yang remnya mendadak blong. Udah lama-lama nunggu bus dateng di halte eh begitu dapet, baru jalan bentar, ternyata remnya blong. Kan gemesh. Walhasil ongkos bus Rp 4.500,- pun melayang. Jangan salah, di Jawa, 4.500 itu berharga. Sebenernya pas di halte, kami ditawari naik taksi menuju Keraton seharga Rp 30.000,- (masing-masing cuma bayar Rp 6.000,- karena kami berenam), tapi kami menolak. Dan penyesalan pun memang datangnya di akhir. Ketidakjelasan menunggu bus berikutnya yang nggak tau kapan datang dan bakal sesumpek apa akhirnya kami memutuskan untuk jalan ke Keraton. Berbekal pengalaman Sarah dan Eri yang katanya jalan cuma 15 menit tapi ternyata sampai di tempat tujuan setelah menempuh perjalanan 45 menit jalan kaki (dibarengi foto-foto sih).

 
SGM (Solo Grand Mall)
Jalan kaki dari SGM menuju Alun-alun
Found this while walking

Foto ala-ala The Beatles
Jalanan Kota Solo

Salah satu transportasi di Solo

Waktu yang kami punya pun makin sempit aja. Sampai di masjid pukul 2 siang dan sholat 15 menit setelah itu kami langsung ke Pasar Klewer (sementara) untuk makan. Hujan pun tiba dengan bulir-bulir yang cukup deras. Nunggu lagi. Makin ngaret. Sekitar pukul 3 sore, kami baru melangkahkan kaki menuju Keraton yang kemudian menemukan ke-zonk-an berikutnya: Keraton sudah tutup. Dengan berbekal secercah harapan, kami langsung mencoba pergi ke Benteng Vasternburg menggunakan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar), tapi ternyata ke-zonk-an masih mengikuti kami: Benteng Vasternbug pun tutup. Saya nggak ngerti kenapa pada tutup, entah karena waktunya tutup atau karena libur atau bahkan karena mau didatengin para ciwi-ciwi rempong ini (?) Yang kami tahu adalah kami sudah gempor.

Pasar Klewer sementara pindah tempat karena yg asli sedang renovasi akibat kebakaran
 
Makan siang di Pasar Klewer
Suasana Pasar Klewer (sementara)

Keraton
 
Sudah tutup
Benteng Vasterburg yang juga tutup
Karena udah nggak tau mau ke mana, akhirnya kami memutuskan untuk balik ke Stasiun mengejar kereta keberangkatan pukul 5. Bener aja, there’s always blessing in disguise. Sopir taksi yang kami tumpangi kocak dan enak diajak ngobrol. Kayanya betah-betah aja sebenernya kalo musti naik mobil dengan sopir gokil kaya gini. Namun, ke-zonk-an masih berpihak bersama kami rupanya: salah stasiun. Kami cuma bilang ke Pak Sopir, ‘Pak ke Stasiun.’ Tanpa embel-embel Stasiun mana. Baru sadar ketika Bapaknya bilang, ‘Stasiun Balapan, kan?’ Lah! Sampai akhirnya salah satu dari kami bilang, ‘Yaudah gapapa, sama aja tho?’ yang kemudian disahut oleh teman yang lain, ‘Tapi kalo di Stasiun Balapan nggak ada tempat tongkrongan kalo ternyata kita nggak dapet yang jam 5.’ Dari perdebatan singkat itu, kami tetap jalan menuju Stasiun Balapan dengan harapan masih bisa dapet tiket keberangkatan pukul 5.

Sebenernya, nggak masalah banget kami mau berangkat dari Stasiun Balapan atau Stasiun Purwosari. Yang jadi masalah adalah tiket keberangkatan pukul 5 sudah habis. Itulah ke-zonk-an kami berikutnya. Jadwal keberangkatan kereta Prameks berikutnya adalah pukul 19.45 sementara kami sampai di Stasiun Balapan sekitar pukul 4.30 sore, itung sendiri kami harus nunggu berapa jam. Karena lokasi Stasiun Balapan bukan di pusat kota, jadi aja nggak ada tempat buat nongkrong-nongkrong yang nggak ngebosenin. Walhasil, kami memutuskan untuk membeli tiket di Stasiun Balapan dan berangkat dari Stasiun Purwosari. Karena keadaan nggak memungkinkan kami untuk jalan lama (lagi), kami mencarilah taksi untuk cus ke Stasiun Purwosari. Tapi tipikal taksi yang mangkal di Stasiun, nggak mau banget ditawar murah. Akhirnya kami jalan (lagi) menjauh dari daerah Stasiun untuk dapet taksi murah yaitu hanya Rp 30.000,-. Nggak tau kenapa blessing in disguise-nya ini ada di sopir taksi lagi. Sama kaya sopir taksi yang pertama, sopir taksi kali ini juga gokil. Ketawa-ketiwi mengisi perjalanan kami dari Stasiun Balapan menuju Solo Square yang letaknya nggak jauh sama Stasiun Purwosari.

Ngegelepor di Stasiun part II
Solo Square

Cute corner

Sementara menunggu waktu keberangkatan kereta, kami makan di Foodcourt dan muter-muterin Solo Square. Segera setelahnya, kami jalan kaki menuju Stasiun Purwosari dengan tepat waktu yang alhamdulillah-nya dapet tempat duduk. Kereta pun berangkat. Kami pikir ke-zonk-an sudah berakhir sampai pada akhirnya saya bilang ke Aya, ‘Ay, keretanya jalan lembut banget ya.’ Aya langsung sadar, ‘Loh ini kereta jalan nggak sih? Enggak, tauk! Itu lampunya diem aja.’ Iya, kereta berhenti. Sepertinya kereta udah berhenti lebih dari 15 menit dan nggak tau kenapa, macet kah, mogok, atau kenapa, yang pasti itu bukan berhenti di stasiun. Hmm. Yang harusnya kereta sampai Jogja pukul 9 (malam) kurang, ternyata kami sampai Stasiun Lempuyangan sekitar 9.30 malam.

Dapet kursi semua :')

Stasiun Purwosari malam hari
Dari seluruh ke-zonk-an yang kami dapatkan di hari itu, kami tetap merasa senang dan bahagia. Bener sih kalau ada yang bilang, ‘It is not about where you are nor what you are doing, but rather it is about who you are with.’ Mau ke mana pun pergi, segimana zonk-nya perjalanan yang kita punya, kalau kita bersama orang-orang yang menyenangkan, semua akan terasa indah.

P.S. make sure you have a clear itinerary with super clear details whenever you want to go traveling. You don’t want to have such zonk voyage, right?
This entry was posted in

Selasa, 21 Oktober 2014

How do You do, Purba Mountain!

It had been a long time I wanted to go climbing up a mountain. I still remember the moment when my friend in high school told me, "Naik gunung tuh emang capek, Lis, penuh perjuangan. Tapi kalau udah nyampe atas, ngga nyesel pokoknya, udah ngga bisa ngomong apa-apa, dan ngga bakal kapok muncak". It was the first time I was looking forward to climb up a mountain! However, it is never easy to me since it is not as easy as visiting a friend's house. Moreover, time, fund, and energy become obstacles for me. One day, one of my friends told me that there is a (little) mountain, in Jogja, to climb it up for beginners. Only need for about 60 minutes to reach the top. She said that perhaps, it is not really a mountain, it looks rather like a kind of tourist attraction. At that day, she invited me and others to go there on the next day. Unfotunately, I had had an agenda on that day which meant I could not join them. Since then, I had a plan to go there. 

It might be true that what we are thinking about can attract everything around us to make it comes true.  When I kept thinking about it, my classmate, suddenly, told me that she wanted to go to Purba Mountain. I immidiately screamed then told her that I wanted to, too. We made a plan soon after that!
Man can plan anything, it is God, however, who determines the destinies. The early plan that I made was fail. My classmates, Fulan, invited her friends to join us. Unfortunately, one of her friends suddenly informed that she could not go at that day. Thus, we rescheduled the time then decided to go climbing on April 9th which was coinciding with the election day.

At the morning, I had to take a mutation letter in the hamlet of Karangmalang's house to get the perforate permit. It was somewhat tiring since I have to go toing only to get the letter. At 8 o'clock, I finally got the letter and went away to the TPS (voting place). Yeay! My tip of little finger had been finally colored the purple ink. It was my first time to vote in the national election. Not really excited, but I had prepared for this a long time ago. After that, my friend and I were waiting for the other friend. We planned to go at 9 o'clock, but there was an obstacle that forced us to wait longer. I do not really remember at what o'clock we began to leave. Perhaps, it was around 10 o'clock. We need for about 60 minutes to get there. When we arrived there, we immidiately grabbed the ticket and started to climb up the mountain. Purba Mountain, here we come! 

At the first minute, everything was going well. The track was flawless. We kept climbing up and up. First 15 minutes I started to feel tired, perhaps, it was because that was my first time to climb up the mountain. We decided to have a rest on a (maybe) big stone. There, i saw the scenery around me was green. Trees were looked high and so many. I closed my eyes and enjoyed the new atmosphere I just felt. Seeing that scenery was more than enough for me since I had never had such experience. All I usually see is many buildings in the suburb of Jogja. Moreover, in my hometown, I had never experienced something challenging in any natural attraction. I, again, looked around, then started to think of how it would be looked from the top of the mountain. However, because of my lack of experiences, my mind could not imagine that. About 10 minutes later, we continued the track.

I heard my own footsteps paced the track. It stamped about. The track was no longer flawless. We had to climb the wooden stairs with a big stone above it. When I saw it, I honestly thought, ‘what if the stone suddenly fall out?’ Fortunately, it was only in my mind. I kept walking following my friends. When I found stones that I should pass, I had just realized that I wore inappropriate shoes! I wore the shoes that usually I use to go to campus, seriously, I did not know that the track would be like that. Of course, wearing them was somewhat disturbing, I could almost fall out when passing the stones. Moreover, I also used the wrong clothes! I wore white sweater that more approperiate to use it in campus or one’s house. I was getting tired. Biking everyday to campus did not enough to make me fit and well seemingly. Up, up, and up. I was really exhausted. Had some water only vanished a little of the tiredness. Then suddenly something was running in my mind, ‘Gue ngga mau naik gunung lagi, gila sebegini capeknya baru separuh jalan!’ Fortunately, my friend did understand that I was tired. She walked slowly and shouted, ‘Ayo, semangat, El!’ I think, in the beginning of the track was more tiring than in the middle. Perhaps, it was because in the beginning, the track was flawless so I had to continously walk, whereas, in the middle, the track was no longer flawless, that made me to be careful and walked slowly. Yet, for me, it had been really tiring!
 
Continously climbing up made me motionless which meant I was getting really tired. My friend in front looked back and saw my face. Immidiately she said, ‘Muka kamu pucet, El. Mau istirahat dulu?’ I only responded, ‘Iya po?’ then continued to walk. We followed the people in front of us, but suddenly they stopped and told us that it was a wrong way. ‘Iki sih buntu, kowe ki piye e mas. Aduh, piye meh bali.’ One of them said. It seemed that they were somewhat panic. Yet, my friends and I, were not that so. I myself felt happy. Because of that, I could take (again) some rests. Fulan and I was sitting calmly. The other friend climbed up sort of really a big rock trying to look for where we should go. The people we followed had just gone down and looked for another way to get the top. After some minutes, we continued the track. My friend that had looked for the track from the big rock had known where we should go to get the top. Yeay! We took another way.

Right track! I saw some directions showing the way to the top. Then I passed a sign ‘Puncak, Mas Bro!’ I was really happy to see that. I was thinking of I finally reached the top after a looooong hard way. Felt like it had been really tiring. Sadly, the sign I saw was out of expectation. I thought it only needs several meters to get there after the sign. And yet, I was wrong. We had been walking more than 15 minutes, but the top had not been looked. I almost gave up. I asked my friends to stop for a while. I sat on a rock and immidiately had some water. I really did not know what I feel. My head was not dizzy, but it also was somewhat unusual. I felt like I did not want to walk any longer. My eyes was not sparkling like fireflies, but it was also not comfortable as usual. Then, I felt a little dizzy. I frickled my eyes and did not let my tounge was quiet. I tried to say something so that my mind was not empty. Then, after several minutes, I felt better then shouted to my friend, ‘Yuk, Ful, lanjut!’

I really wanted to go home, that was why I asked my friends to continue the trip. I really wanted to end this as soon as possible. All I wanted was going back home and sleeping! Walking several minutes from the place we used to take a rest, we finally found wooden staircase that connects to the top of the mountain. I carefully took a ride of it. Fulan, who was in front of me, first reached the top and immidiately screamed, ‘Kebayar, El!’ I did not really care about that. I still focused on my foot that was taking a ride the staircase. When it went to be the last stairway, I looked around me all green. I screamed out loud in my heart, ‘KEBAYAR! KEBAYAR BANGEEEEEEETTTTT!!

I was enchanted when I first saw it. It was really my first time to see such scenery. I could see clouds closer, feel the wind touch my face, and...and...aaaaaaa I really did not know what words to describe. I was happy, so happy. I was really enchanted to see this!

There are some people in there. As I said before that this mountain is a tourist attraction, so we could find a lot of people there, on the way or even on the top of the mountain. I sat beside Fulan. We sat right in front of another top of mountain enjoying the view. Ah, I forgot something! ‘Where is my tiredness?’ I really forgot about it! This was too awesome to be protested. I did not remember that I had been really exhausted. The view really made me speechless. Thus, I know why my friends told me that no matter how tired you were, you would never be disappointed after getting the top. 

I still felt enchanted, so did Fulan. When I glanced up, I saw the sky hanging closer. Then I looked around and all I found was composure. Everything was green and really enjoying. I took up my bag and made it as a pillow. I lied on it. The clouds seemed to move faster. I closed my eyes. The wind touched my face softly. Then I suddenly felt that I am nobody. I am just a (very) little part of His creation. Really, there is no use of being conceited.
 
We got lunch together since we had already prepared and brought it from the house. Ah, seriously, this was the most beautiful lunch view I have ever had. Actually, I wanted to stay longer, but we had to take a prayer which meant we had to go down. Several minutes later after having the lunch, we prepared to get down. I set my bag and be ready to go down. Well, thank God for this amazing place. I will be right back, Purba Mountain!