Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Desember 2020

Kembali

 Malam itu Dinta menyetir ke Bandara dengan perut besarnya. Menjemput suaminya setelah business trip di luar kota. Tak lama menunggu, suaminya terlihat di pintu keluar melambaikan tangan.

"Kangen" ucap Dinta sambil berpelukan. Suaminya membalas dengan senyuman dan pelukan yang hangat. Lalu mereka menuju tempat parkir untuk bergegas pulang.

"Aku aja yang nyetir, kamu kan lagi hamil," ucap Firas.

"Oke," jawab Dinta riang, "tadi aku pergi buat beli baju bayi sama Mama. Lucu-lucu deh. Aku mau beli semuanya saking gemesnya haha"

Firas terlihat mengangguk.

"Menurut kamu kita butuh beli tempat tidur buat bayi nggak?"

"Menurut kamu gimana?"

"Harganya agak mahal sih. Kan kita juga belum siapin trolley, dll. Kita pending aja dulu kali ya. Kalo emang butuh nanti, baru beli. Gimana?"

"Boleh." Entah kenapa Firas agak diam hari ini.

"Nanti kita juga ke sana ya. Aku mau ajak kamu liat-liat."

"Oke."

"Gimana trip-nya? Seru?"

"Iya."

Dinta menyalakan radio untuk mengusir keheningan perjalanan pulang tersebut. Firas tidak seperti biasanya. Mungkin Firas lelah, pikirnya.

"Din," Firas tiba-tiba memanggil.

"Ya?"

"Din, aku suka sama orang lain."

Sontak Dinta menoleh ke arah Firas yang masih fokus menghadap ke jalanan. Ia terkejut hingga tak sadar membuka mulutnya. Mendengar perkataan Firas tersebut Dinta merasa sesuatu menusuk dadanya. Membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Dinta memindahkan pandangannya ke arah jalanan. Mencoba memproses apa yang baru dikatakan Firas.

"Kamu tau kan anak kita lahir bulan depan?" tanya Dinta dengan suara parau.

Firas masih terdiam dan memandang ke depan.

"Kenapa baru bilang sekarang?" tanya Dinta lagi.

"Aku baru sadar belum lama ini, Din."

Hanya ada alunan lagu dari radio yang menemani keheningan mereka. Sambil sesekali terdengar suara dengus nafas panjang dari Dinta. Dinta menengok ke arah kiri. Memandang ke arah luar jendela, mencoba menahan air mata yang terasa sudah menggenang di pelupuk mata. Mobil terus berjalan hingga pada akhirnya sampai di kediaman mereka. Dinta langsung  bergegas masuk ke dalam kamar sebelum Firas memarkirkan mobilnya di dalam garasi. Beberapa menit kemudian Firas menyusul Dinta. Namun, sebelum ia masuk ke dalam kamar, tangisan Dinta terdengar di balik pintu. Firas tidak ingin mengganggunya. Ia memutuskan untuk tidur di kamar yang lain, kamar calon anaknya.

Firas terbangun keesokan paginya. Tanpa istrinya di sampingnya. Ia beranjak mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Tak ada jalan lain selain harus masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil pakaian yang akan ia kenakan. Firas melihat Dinta masih terbaring di atas kasur dan masih terpejam. Biasanya Dinta sudah menyiapkan sarapan dan pakaian untuknya. Firas membuatkan bubur instan untuk istrinya yang ia letakkan di meja sebelah kasur. Ia memandang istrinya yang masih terpejam dengan perasaan yang entah kata apa yang bisa menjelaskan. Ia juga tak mau hal ini terjadi.

Pukul 10 pagi Dinta terbangun. Kemudian tersadar apa yang terjadi semalam. Ia mendengus panjang berusaha untuk bangun. Kepalanya terasa berat akibat menangis semalaman. Lalu ia tergopoh berjalan ke dapur untuk meminum susu hamil yang rutin ia konsumsi. Setidaknya bayinya harus baik-baik saja, ucapnya dalam hati. Dinta kembali termenung, teringat ucapan Firas tadi malam. Matanya kini kembali memanas, tapi ia mencoba untuk mengendalikan perasaannya. Ia kembali ke dalam kamar, menyadari ada semangkuk bubur di meja. Tak ada keinginan untuk menyantapnya. Dinta kembali menarik selimut dan melamun. Tak lama ponselnya berbunyi. Ternyata sudah ada banyak chat dari Firas menanyakan apakah ia sudah bangun dan sudah makan. Dinta mengabaikan pesannya. Kemudian ia terpejam kembali. Terlalu lelah untuknya.

"Din,"

Terdengar suara memanggilnya hingga Dinta terbangun.

"Kamu belum makan juga?" ucap Firas yang kini sudah di depan mata Dinta. Dinta melihat jam dinding menunjukkan pukul 12 siang lebih 13 menit.

"Aku khawatir sama kamu makanya aku pulang cepet. Ini aku bawain sup. Dimakan ya, kamu kan nggak sendirian."

Firas lalu mengambilkan mangkuk dan sendok untuk istrinya. Menyiapkan sup untuk disantap Dinta.

"Mau aku suapin atau mau makan sendiri? tanya Firas.

"Sendiri aja." Dinta menjawab singkat.

"Aku di depan ya, mau lanjut kerja. Kalau kamu butuh apa-apa bilang aja." Firas memberi tahu lalu keluar dari kamar.

Dinta menyantap sup dengan tidak antusias. Kalau bukan karena bayi di dalam perutnya, mungkin ia lebih memilih untuk tidak makan.

Malamnya Firas tidur di sofa ruang tengah setelah makan malam yang dia pesan dari makanan pesan antar untuknya dan Dinta. Ia masih segan untuk kembali tidur di kamarnya lagi. Mungkin Dinta belum bisa menerima kehadirannya, pikirnya. Keesokan harinya Firas tetap berangkat bekerja. Tanpa ada istrinya yang menyiapkan sarapan dan pakaian untuknya di pagi hari. Lalu pulang setengah hari untuk melanjutkan bekerja di rumahnya. Memastikan ia menyediakan makanan untuk Dinta walaupun makanan yang ia berikan tak pernah habis. Beberapa hari berjalan seperti itu. Dinta tetap tak pernah menyiapkan apa pun untuk suaminya. Sampai akhirnya Firas memberanikan diri untuk tidur di kamar bersama Dinta. Dinta menghadap ke arah kiri. Mencoba memejamkan matanya dan mengabaikan Firas yang tidur di sampingnya. Tak lama kemudian ia merasakan tangan Firas memeluknya sambil mengusap-usap perutnya.

"Papa udah lama ya nggak ngobrol sama kamu, Nak." Firas bersuara. Sementara Dinta hanya terdiam.

"Kamu udah tidur belum, Nak? Papa nggak sabar ketemu kamu. Kamu lahir yang lancar ya, biar Mama nggak sakit terlalu lama," Firas melanjutkan tanpa ada jawaban dari ucapannya. Dinta tetap terdiam. Firas masih memeluknya dari belakang. Hanya ada keheningan beberapa saat sebelum Firas melanjutkan ucapannya.

"Din, maafin aku ya. Maafin ucapanku beberapa waktu kemarin. Aku tau kamu pasti kecewa, sedih, dan marah sama aku. Maafin aku, Din. Aku benar-benar nggak bermaksud untuk nyakitin kamu.

Din, perempuan itu teman kantorku. Aku merasa ada ketertarikan sama dia. Mungkin karena sering ketemu dan kerja bareng. Tapi aku belum pernah bertindak apa-apa, Din. Nggak ada interaksi berlebih kecuali soal kerjaan. Maka dari itu aku minta bantuan kamu ya, Din. Bantu aku buat menghapus rasa ketertarikan aku sama dia. Bantu aku untuk menumbuhkan percikan-percikan itu sama kamu lagi. Aku pengen sama sama kamu lagi, Din. Aku kangen sama kamu."

Dinta tetap terdiam. Hanya terdengar isakannya yang tertahan.

Keesokan harinya Firas terbangun tanpa istrinya. Sambil mengumpulkan nyawa ia menengok ke segala arah mencari-cari Dinta. Ia ke kamar mandi melihat apakah Dinta di sana, tetapi kosong juga. Ia mulai panik. Mengecek semua sudut rumah. Jantungnya berdebar tak menemukan Dinta di mana pun. Hal yang ia takutkan terjadi, pikirnya. Matanya mulai memanas. Lalu ia mencari ponselnya dan mencoba menghubungi Dinta. Tiba-tiba suara pintu depan terdengar terbuka. Firas bergegas ke depan, lalu ia melihat Dinta membawa belanjaan sayur-mayur. Dinta tersenyum begitu melihat Firas. Sudah lama rasanya Firas tak melihat senyuman itu. Ia pun langsung memeluk Dinta dengan erat. Reflek barang-barang belanjaan Dinta terjatuh dari tangannya.

"Hari ini aku masakin makanan favorit kamu ya," ucap Dinta membalas pelukannya. Firas kemudian memeluknya semakin erat.

This entry was posted in

Rabu, 30 Desember 2015

Cerpen: Hujan Kemarin

Kuputuskan untuk mengambil langkah. Menerjang hujan yang sepertinya enggan membiarkan setiap sudut kota kering. Aku hanya menutup kepalaku dengan tas kulit kecilku. Ah, kalau bukan karena rapat penting itu, aku akan tetap duduk di kedai menikmati secangkir coklat panas dan kemudian kembali ke kantor terlambat dengan alasan tidak membawa payung. Baru beberapa langkah, aku merasa hujan tak lagi membasahiku. Aku mendongak ke atas. Payung? Sedetik kemudian aku melihat ke arah samping tanpa pikir panjang aku langsung memulai perbincangan, "Apa-apaan sih kamu? Nggak lucu tau nggak!" aku tetap berlari.

"Kamu ngomong apa sih? Aku cuma ngasih kamu payung." ia menjawab.

"Aku udah bilang aku nggak bisa."

"Nggak bisa apa? Aku cuma ngasih kamu payung, aku bilang."

Aku menahan langkahku, "Aku bilang aku nggak bisa..."

"Kamu tuh tinggal ambil payung ini apa susahnya sih?" ia memotong. "Aku nggak minta kamu buat apa pun. Aku cuma ngasih ini payung karena hujan dan kamu harus pergi rapat. Kamu mau rapat dengan keadaan kuyup? Apa yang kamu pikirin? Nggak bisa? Nggak bisa apa? Aku nggak minta jawaban. Kamu udah jawab aku dari dulu. Apa salahnya sih tinggal ambil doang?"

Aku mematung. Seperti biasa. Ia selalu baik kepadaku dan aku selalu menyia-nyiakannya. Ujungnya, aku selalu menyakitinya dan ia selalu berhasil membuatku merasa bersalah.

Aku hanya diam menatap, ia pun begitu. Ia sudah kuyup karena membiarkan payungnya berada di atas kepalaku. Aku berlari lagi mengejar sekian menit yang telah kuhabiskan berbincang sia-sia itu. Ia tetap mengikutiku. Aku hanya tetap berlari, tak menolak. Hingga akhirnya aku berkata lagi, "Cukup. Kamu tau aku nggak pernah baik sama kamu. Liat. Kamu yang punya payung, kamu yang basah. Kamu yang punya hati, kamu yang sakit. Udah cukup. Jangan ikuti aku lagi."

Ia berhenti, tanpa membalas perkataanku sepatah kata pun. Aku segera bergegas berlari. Sengaja aku memberhentikan dia di sini karena kantor sudah hanya sejengkal. Aku hanya tidak ingin mengucapkan terima kasih.
This entry was posted in

Jumat, 11 Desember 2015

Cerpen: Aku Hujan, Kamu Sunset

Langit memang sudah mendung saat aku berada di dalam kelas. Selangkah kaki ke luar seakan-akan menjadi tombol meruntuhkan air dari langit. Aku langsung tertahan, memutuskan tidak menerjang hujan.

Aku tetap berdiri, menyimak satu-persatu jutaan bulir hujan berjatuhan. Bau semerbak tanah langsung menerpa hidung. Tersenyum.

Terlihat dari sisi mataku ada seseorang datang. Tertahan pula. Perlahan aku melihat sampingku, kemudian melangkah mundur. Menatap hanya punggungnya.

Ia nampak gelisah, mendongak ke atas seperti ingin menebak seberapa banyak lagi air yang tersisa di awan sana. Ia menengok kanan kiri seolah berharap ada anak-anak menawarkan payung seperti di mall-mall. Ia menatap sekeliling dan tak lama menengok ke belakang. Tatapanku tertangkap. Ia pun menatap, kemudian tersenyum yang membuatku berdoa agar aku tak mengurungkan niat untuk melupakannya. Namun, senyumannya selalu membuatku bergumam, he smiles the best that nobody could ever have. Aku membodohi diriku sendiri.

Ia mendekat masih dengan senyum di wajahnya.
"Kejebak hujan juga?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Kayanya udah lama kita nggak ketemu, kamu ke mana aja?"
"Nggak ke mana-mana, Kak. Masih di sini. Mungkin kamu yang ke mana-mana."
"Ngomong-ngomong, kamu apa kabar?" Masih dengan senyumnya.
"Masih sama, Kak." Aku mencoba tersenyum.
Ia tertawa kecil dan mengacak-acak rambutku seperti yang biasa ia lakukan dulu.
"Kapan ya kita terakhir ketemu?" Ia bertanya sekali lagi.
Aku menggeleng. Berpura-pura tak mengingat hal yang sebenarnya aku hafal persis di mana dan kapan kita terakhir bercengkerama. Sebulan. Tapi terasa setahun bagiku.
"Kok kamu nggak nanya kabarku?" tanyanya seperti ia tak mau kehilangan topik pembicaraan.
"Untuk apa? Untuk tau kamu udah bahagia dengan yang lain?" Aku mencoba tersenyum sekali lagi.
Dia tertawa, "Kamu emang masih sama." Mengacak rambutku lagi.
"Mungkin bagi kamu, aku kaya hujan. Menahan kamu untuk tinggal, tapi setelah reda, kamu melanjutkan perjalanan." Aku melanjutkan, "Dan bagi aku, kamu kaya sunset. Indah sih, tapi cuma sebentar." Aku tertawa kecil. Senyumnya memudar. Ia menatap ke depan, mengalihkan pandangan. Hujan tiba-tiba semakin deras. Suara yang dihasilkannya semakin keras seolah ingin memecahkan keheningan. Aku semakin tertahan di momen ini. Menghela nafas panjang. Untuk pertama kalinya aku mengutuk hujan.
This entry was posted in