Tampilkan postingan dengan label Cerita Ellis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Ellis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Oktober 2017

Her Last Dress

I saw my mom walking into my room while I was laying down in the living room. I didn't really notice what she was doing. A moment later, she was out wearing clothes I had never seen before. She showed me up her new dress then asked me whether or not it fit her.
"Bagus kan bajunya?" said she.
"Enggak, biasa aja." I, typically, answered.
"Bagus ah,"
Then she went in my room again having another glance on how she looked in front of the mirror, I assumed. She continued mumbling.
"Kaya anak muda nggak sih ini?" asked she.
"Enggak. Udah nggak apa-apa."
"Buat Ellis aja tah? Lebih cocok buat anak muda kayanya,"
"Enggak, nggak usah. PD aja lagi,"
"Kan Ellis kurus, lebih pantes."
She kept telling me that the dress would fit me better, while I kept arguing that it fit her well, too.

Several days later, she got headache that led her into her death. I never knew it would happen that fast. Don't ask me how it felt. Losing mom meant losing a half of my life.
Months after she passed away, my aunt asked me to clean up my mom's drawer. She said that the clothes would be better shared to others who might need them. I opened up mom's drawer  picking up the clothes, then soon I found the dress we once talked about. I immidietely reminisced the convo I mentioned above. Inhaling while thinking how it could've been like this.  As soon as I exhaled, I was about to burst in tears. My aunt told me to keep it for my own. She knew that it's new. I guess my mom bought it with her back then. I still didn't think I would wear it. Instead, I put it in my drawer and thought I might want to give it to anyone else.

Later on, I don't know what my sister thought, she brought that dress from home. I asked her, "Kenapa dibawa ke sini? Emang mau dipake?" and still, neither me nor my sister, we didn't even try it. I once again thought that I might want to give it up. Until one day in this month, I opened up my drawer trying to pick which clothes I wanted to wear that morning. My eyes were caught up in that dress. Then in all of a sudden, I picked it up and decided to wear it for the first time.

You're right, Mom. It fits me well.
Couldn't believe this is the last dress you "gave" to me.

Rabu, 12 Juli 2017

Mencicip Eropa

Karena beberapa teman saya meminta saya buat share di blog tentang cerita perjalanan ke Eropa kemarin, jadi ya now I'm trying to give it a go.

Sebenarnya saya agak bingung sih mau mulai dari mana dan mau share apa karena udah lama banget juga, jadi saya mungkin akan tulis secara highlight aja.



Saya pernah dengar pepatah yang kurang lebih bilang: "It is that feeling of willing is more powerful than the fulfillment. So, there are so many people that are really enthusiastic in wanting something but then after they get it, there's no something special," Nah, nampaknya pepatah itu ada benarnya juga. Saya nggak bilang kalau semuanya kerasa biasa aja dan nggak spesial. Tapi, karena saya (dan teman-teman) menghabiskan waktu berbulan-bulan persiapan untuk sampai di Benua Biru itu dengan susah payah nan berdarah-darah, jadinya ya semua proses dan perjuangan itu kerasa lebih berharga dan takkan tergantikan aja sih. Begitu sampai di sana, saya hanya bergumam "Oh, gini toh," hehehe. Namun, pada akhirnya, saya sadar kalau kedua "perjuangan" dan "pencapaian" punya kesan masing-masing yang sangat membekas.


Autumn leaves
Itinerary perjalanan saya (sebenernya "kami" sih, tapi karena ini blog saya jadi yaudah "saya" aja) awalnya adalah Paris-Praha (dan Teplice)-Berlin-Paris. Tapi, karena tiket promo ke Paris sudah habis, akhirnya berpindah haluan penerbangan ke Amsterdam. Kenapa ke Amsterdam padahal acaranya di Praha? Tidak lain tidak bukan karena tiket ke Amsterdam jauh lebih murah daripada ke Praha haha. Saya (of course, dan teman-teman) awalnya sempat intimidate Amsterdam banget kenapa jadinya ke Belanda dan  tak lupa kecewa karena nggak jadi mau foto-foto bikin tulisan di kertas "Kapan ke sini bareng?" dengan background Menara Eiffel. Well, itu teman saya sih yang bilang lol. Tapiiiiii, tiada sangka tiada duga, Amsterdam jadi kota terfavorit saya dan bahkan hampir semua dari kita! Saya nggak tahu persisnya sih ya kenapa malah Amsterdam jadi yang terfavorit, tapi mungkin emang gitu, semakin kita nggak punya ekspektasi tinggi sama sesuatu maka kita akan semakin nggak mudah kecewa eaa paanci.


Amsterdam dari atas tapi yg ini dari gugel
Begitu Kapten Pesawat mengumumkan pesawat akan segera landing, saya pun bersiap-siap memakai jaket karena di sana sedang Autumn alias musim gugur dan sudah hampir musim dingin (Waktu itu sempat mencapai 0 derajat celcius!). Dari ketinggian, saya lihat ke bawah bertanya-tanya kenapa bangunannya tersusun sangat sangat tertata huhu. Turun dari pesawat, saya sudah siap-siap kedinginan dong ya, eh taunya malah enggak. Kan masih di dalem bandara, ada heater-nya, angetlah #emangngeselinanaknya. Keluar dari bandara, saya, kebetulan, langsung disambut keramah-tamahan orang Belanda. Awalnya, saya nanya ke Satpam (?) Bandara tentang rute bis, setelah dikasih tahu, dia nanya (lebih tepatnya nebak) saya dari mana. Begitu tahu saya dari Indonesia, dia langsung bilang kalau dia pernah ke Indo dan sudah pengen banget mau ke Indo lagi. Wow, how ironic.


Amsterdam Schipol
Dua hari di Amsterdam, saya merasa puas. Amsterdam adalah ekspektasi saya tentang Eropa. Bangunannya klasik, rapih, lucu, berudara dingin. Lalu, ada banyak kanal alias sungai yang jadi bikin syahdu. Ditambah lagi ada banyak pesepeda berkeliaran, ya walaupun pada cepet-cepet udah kaya maling sepeda bikin kaget pas jalan. Kotanya ramai, orang-orang pada bisa bahasa Inggris jadi komunikasinya mudah, sering ketemu orang Indo, sering ketemu orang pake hijab juga. Saya sering baca blog atau cerita orang yang katanya kalau di luar negeri trus ketemu sesama muslim dan disapa Assalamualaikum itu rasanya sesuatu. Awalnya saya mikir ya make sense sih, tapi enggak nyangka bakal seterharu itu huhu. Nah, di Amsterdam ini, teman-teman saya ketemu Syahrini di Dam Square wkwkwk. Saya lagi melancong nggak tau ke mana. Malam sebelumnya, ketemu Ben Joshua pas kita lagi cari makan malam. Ini Belanda apa Indo deh.


Dam Square
Kota berikutnya adalah Praha. Dari Amsterdam ke Praha naik Flixbus soalnya jauh lebih murah daripada naik kereta atau pesawat wkwk. Naik kereta di Eropa buat budget traveler itu nggak recommended sih. Flixbus/Regiojet/Euroline adalah jawabannya bagi para kere-ers lol ya walaupun tetap lebib mahal juga kalau dibandingin bis Indo. Makanya jangan dibandingin haha.
Nah, karena saya sudah dapat banyak dengar kalau Praha itu kota yang cantik, fairytale, magical, romantis, dsb, saya jadi berekspektasi tinggi sama Praha. Entah karena ekspektasi dan fantasi saya terlalu tinggi atau gimana, saya merasa Praha nggak lebih cantik dari Amsterdam. Satu-satunya yang memenuhi ekspektasi adalah Old Town-nya. Ya emang bagus sih Old Town. Bangunan (gerejanya) sangat klasik dan gotik. Keren gitu deh. Praha ini kota terlama yang saya tempati. Orang-orangnya banyak yang nggak bisa bahasa Inggris. Saya bahkan nggak sengaja makan daging babi pas sarapan di Hotel, padahal saya udah jelas-jelas nanya ke pelayannya, "Is this beef or bacon?" doi jawab, "Beef," lalu saya langsung koar-koar ke teman-teman saya ngasih tau kalau dagingnya sapi. Eeeh taunya, pas LO saya datang dan saya make sure nanya ini sapi bukan, ternyata bukan. LO saya bilang, "I think you should change your meal because it's apparently bacon," setelah dia nanya lagi ke resto hotelnya. Tapi bacon enak btw huhu.
Karena Praha bukan kota sebesar Amsterdam, orang-orang yang saya temui di sana juga nggak seheterogen di Amsterdam. Hampir white people semua. Sangat jarang menemukan orang berhijab, jadi sekalinya ketemu, langsung berasa ketemu saudara, ramah banget. Di Praha, saya sama sekali nggak menemukan orang bersepeda atau bersepeda motor. Saya curiga di sana cuma jual mobil aja(?) Selama di Praha, saya sempat ke Teplice (masih di Ceko juga), karena ada agenda di sana. Nggak kemana-mana juga sih pas di Teplice karena seharian full acara di sana.


In Teplice
Terlepas dari kurang terpenuhinya ekspektasi saya atas Praha dan dimarahin orang sana dan hal-hal lain yang kurang mengenakkan lainnnya, Praha tetap memorable dengan kenangannya. It was worth visiting.



Old Town
Kota berikutnya yang saya kunjungi adalah Berlin. Perjalanan dari Praha ke Berlin tetap menggunakan bis. Kali ini saya pakai Regiojet. Lebih mahal dari Flixbus, tapi Regiojet ini wifi-nya nyala dan guide-nya ganteng parah. Egmn. Tapi beneran deh ya, kalau orang Bandung bilang sepertinya Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan Bandung, saya bakal bilang sepertinya Tuhan sedang bahagia ketika menciptakan orang-orang Eropa haha. Ganteng-ganteng dan cantik-cantik sejauh mata memandang huhu. Selain guide-nya, sopirnya juga ramah. Entah perasaan saya doang apa gimana, kayanya orang Jerman jauh lebih ramah daripada orang Ceko.

Urutan kunjungan saya ini kayanya merepresentasikan urutan kota yang saya sukai. Dulu saya suka berfantasi mau tinggal di Jerman. Negara Uni Eropa urutan teratas. Tapi ternyata, nggak lebih klasik dari Praha. Don't get me wrong. Ini kan opini pribadi hehe. Mungkin saya sudah semakin terbiasa dengan bangunan Eropa (yaelah gaya beut botol kecap), jadinya saya nggak melihat bangunan yang terlihat outstanding di Berlin. Malah, saya melihat Berlin ini seketika teringat Jakarta. Agak berantakan dan lebih metropolis dibanding Praha dan Amsterdam. Saya melihat beberapa spot kaya nggak terurus gitu. Eh atau lagi dibangun ya? Nggak tau lah, pokoknya menurut saya, Berlin nggak seperti dalam fantasi saya. Ya walaupun tetap dong ya, Eropa adalah Eropa. Nggak ada yang menandingi keklasikannya. Saya cuma dua hari di Berlin, jadi opini saya tentang Berlin tentu sangat terbatas. Di Berlin, orang-orangnya lebih heterogen bahkan dari Amsterdam. Sering banget menjumpai orang berhijab, ya secara imigran Turki paling banyaknya ke Jerman. Kotanya sangat ramai. Apalagi pas di Primark. Murah-murah sih soalnya cem Jolie/Sakola kalau di Jogja wkwk. Btw, kalau sistem transportasi, di ketiga kota itu mirip sih. Ada kereta bawah tanah, trem (kereta yang malang melintang di jalan), dan bis. Yang jelas, transportasi umum di sana jauh sama di Indo haha and I felt like I was cool using public transport lol. 


Typical tourist
Setelah serangkaian kunjungan itu, akhirnya saya kembali lagi ke Amsterdam karena pesawatnya dari Amsterdam. Dan nggak tahu ya, saya bahagia banget sih pas balik ke Amsterdam. Rasanya tuh kaya ya ampun akhirnya ke Amsterdam lagi dan ini udah mau balik Indo, enggak mauuuuuu.

Dari Berlin, saya sampai di Amsterdam pagi hari. Pesawat saya sore, jadi saya punya waktu seharian buat menikmati Amsterdam. Cry. Udah nggak keitung saya dan teman-teman saya bolak-balik ke Albert Hejn (Baca: Indomaret) buat beli coklat. Begitu balik ke tempat tunggu dan masih menemukan euro kita masih tersisa, kita balik lagi beli buah. Buahnya enak, akhirnya kita malakin anak-anak yang masih punya recehan euro. Patungan, beli lagi buah sampai berkali-kali. Sampai pelayannya bosen juga kita lagi kita lagi lol. Dan akhirnya kita patungan buat beli makan: Nasi Goreng Sataj Ajam. Gitu tulisannya. Lumayan enak. Tapi ya of courseeee, rasanya jauh sama yang di Indo haha mahal uga 5/6 euro gitu saya lupa.



Begitu saya selesai menulis ini, ternyata panjang uga ya. Padahal ini baru highlight. Masih ada banyak hal yang terkenang di kepala. Mungkin saya bakal bikin postingan lagi untuk cerita yang lebih detail karena masih ada hal-hal yang bikin saya merasa insightful!

Rabu, 13 Juli 2016

Jogja at a Glance

Courtesy: jogjangangeni.com

Nggak pernah terpikirkan untuk saya bisa tinggal di Kota Pelajar ini. Karena dulu emang nggak begitu berambisi buat milih satu kota tertentu untuk ditinggali selama kuliah. Dan karena 'kebetulan' universitas idaman saya nggak berada di Jogja, jadi aja saya nggak naksir-naksir amat dengan kota sejuta Gudeg ini. Long story short, saya random aja gitu memilih UNY sebagai pilihan kedua saya dalam SNMPTN. Dan yup! Pilihan pertama saya menolak saya hingga saya bisa berada di sini. It's almost been 4 years!! 

Kesan pertama ketika menginjakkan kaki di Jogja setelah bertahun-tahun nggak ke sini adalah medhok. Dulu saya selalu menganggap bahasa Cirebon adalah bahasa Jawa. Orang-orang Cirebon pun akan prefer menyebut bahasa Jawa untuk merujuk ke bahasa Cirebon. Padahal ketika pertama saya dengar orang-orang ngobrol pakai bahasa Jawa, saya benar-benar roaming dan in complete confusion. Dan lebih bingung lagi, ketika saya kenalan sama orang, dia mengira kalau Cirebon itu ngapak. I was like, "What?!"  Ngapak itu apa aja saya nggak tau. Hufff. Tapi kemudian, saya benar-benar salut sama penduduk lokal karena mereka sangat mempertahankan bahasa ibu mereka. Dari anak kecil, anak muda,  ibu-ibu, bapak-bapak, sampai embah-embah dan dari tukang becak, pelajar, mahasiswa, sampai pengusaha dan pejabat, mereka semua nggak ragu untuk berkomunikasi dengan bahasa Jawa di mana pun mereka berada. Bahkan teman kuliah saya pernah mengatakan kalau dia bangga menjadi orang Jawa dan berbahasa Jawa. And I super really totally apreciate that. Karena entah kenapa di Cirebon, para anak muda dan agabon-ers (anak gaul Cirebon) akan merasa malu untuk berbahasa Cirebon. It's really sad, right? And I'm like, "If you think that using Cirebonese is hick, you'd better go to Jawa or probably Bandung to see how proud the local people are using their own mother tounge. And if you still think it's hick, you should go and f**k yourself. Seriously!"  Haha.

Selain kental dengan bahasa Jawanya. Jogja pun terkenal dengan keramah-tamahannya. Dulu saya sempat kaget begitu saya beli sesuatu dan penjualnya bilang, "Bawa aja dulu, Mba, nggak ada kembaliannya. Mbanya ninggal di sini." What?! Saya itu orang asing lho, kok ya bisa langsung percaya gitu aja. Kalau saya lupa atau bahkan nggak mau bayar sekalian gimana? Rasa-rasanya kalau di Cirebon, si penjual akan mencarikan kembalian sekalipun harus menukar ke mana dulu, ya kecuali kalau sama orang yang udah dikenal.

Sejauh saya punya teman-teman yang orang Jogja, mereka lebih nggak konsumtif, sederhana, dan bersahaja eaak. Dari cara berpakaian sampai gaya hidup, mereka nggak terlalu ngoyo untuk mengikuti tren yang lagi hits. Ya walaupun tetep aja ada yang mencoba hits, tapi kalau dari yang saya liat, kebanyakan mereka nggak terlalu konsumtif sama kemodernan. Ini bisa jadi rem banget buat saya yang bergaul juga sama orang-orang Jawa Barat yang cenderung sangat mengikuti tren dan lebih konsumtif. Hmm.

Hal penting lainnya adalah makanan khas.  Udah pasti dong ya semua orang tau kalau Jogja terkenal dengan Gudegnya. Tapi sampai saat ini, saya nggak doyan sama Gudeg. Bahkan Gudeg adalah salah satu makanan yang saya hindari. Saya keburu nolak duluan kalau diajak makan Gudeg. Haha. Sebenernya, saya pernah nyoba sih beli Gudeg, dan lumayan. Lumayan nggak doyan maksudnya haha nggak deng. Tapi saya keburu parno duluan sama tingkat kemanisan lauk yang dicampur nasi. Karena di sini, masak sayur dan lauk itu wajib hukumnya pakai gula dengan takaran yang menurut saya banyak. Waktu itu saya pernah main ke rumah seorang teman di Bantul yang kemudian saya disuguhi sop. Saya langsung aja tuh kan ngasih air sop banyak ke mangkuk nasi saya, eh begitu saya makan, gila manis banget! Itu sop udah kaya kuah es campur aja deh. Sampai akhirnya saya jadi nggak nafsu buat ngehabisin padahal lagi laper haha. Tapi btw, saya prefer banget ke Angkringan. Nggak ke Jogja kalo nggak ke Angkringan. Suasana lesehan di pinggir jalan malem-malemnya itu loh yang kerasa njogja banget. Murah meriah lagi. Uuuw.

Menurut saya, Jogja itu paket komplit. Saya bisa sok-sokan hedon nongkrong di Mall dan bisa juga sok-sokan jadi anak bolang yang menjelajah tempat-tempat alam yang nggak ada habisnya. Dari pantai pasir hitam, pasir putih, air terjun, gumuk pasir yang katanya cuma ada di dua tempat di dunia (?), goa, gunung, sawah, hutan, you name it lah, ibaratnya, apa sih yang nggak ada? Yang nggak ada, aku di hatimu sih. Pergi ke tempat-tempat itu bisa jadi penyegaran buat otak banget di sela-sela pusingnya kuliah dan ruwetnya berurusan sama tanggungan yang kadang bikin super gemaz pengen makan tahu bulat (?). Dan yang paling penting, masih tetap ekonomis buat kantong mahasiswa haha. Paling untuk uang bensin dan uang tiket masuk yang masih masuk akal. Tapi btw, pertumbuhan mall di Jogja cukup pesat juga. Dulu awal ke sini, saya nggak menemukan banyak mall. Malahan, Cirebon lebih punya banyak mall daripada Jogja. Tapi sekarang, mall udah kaya jamur di musim hujan. Langsung banyak bermunculan aja gitu. Tempat-tempat gaul dan hits pun mulai amat banyak bermunculan. Tapi eksistensi Burjo masih pada level tertinggi kok buat mahasiswa dan anak kos. Jadi ya tinggal pilih, mau nongkrong-nongkrong unyu di tempat hits, hedon di mall, sok-sokan jadi anak my trip my adventure, atau nongkrong merakyat di Burjo haha.

Dan terakhir, yang paling iconic banget dari Jogja adalah Malioboro. Ya siapa sih yang ke Jogja tapi nggak ada itinerary untuk datang ke Malioboro? Dulu, jaman SD pas baru pertama kali mau ke Malioboro, saya pikir Malioboro itu tempat apa, eh ternyata cuma tempat belanja doang wkwk. Tapi, setelah udah lama di sini, baru kerasa tuh kalau suasana jalanan Malioboro nggak ada duanya. Bau khas dari delman, suara angklung Banyumas-an, dan keramaian para turis domestik dan mancanegara udah jadi khas Malioboro banget. Dan saya nggak menemukan tempat sesyahdu Malioboro yang bikin saya seketika jadi recall all  memories yang saya lalui di Jogja eaak.

Saya rasa, Jogja nggak akan mungkin menyandang titel 'Kota Pelajar' kalau kotanya nggak ramah buat para pendatang khususnya pelajar dan mahasiswa. Sampai saat ini, ada banyak universitas dan para pendatang dari berbagai kota di seluruh Indonesia bahkan luar negeri. Yang mana itu menunjukkan kalau Jogja emang kota yang worth living. Makanya saya nggak ngerti ketika kemarin sempat heboh berita tentang mahasiswa S2 UGM yang menjelek-jelekkan warga Jogja di POM bensin itu. Selama isu itu berlangsung, banyak mahasiswa, dan bahkan hampir semua, kontra dengan Mba berinisial F itu. Jadi mungkin, Mbanya aja kali yang musti berkaca diri wkwk no offense sih.

Walaupun Jogja bukan kota yang saya idamkan dari awal, I ended up feeling so grateful to get the chance living here! Jogja udah jadi kota yang sangat nyaman untuk ditinggali sekaligus jadi gerbang awal saya buat mendapat pengalaman yang udah nggak keitung jumlahnya. Saya bisa jamin sih, nggak akan ada orang yang pernah tinggal di Jogja yang nggak mau balik lagi ke Jogja.

Senin, 20 Juni 2016

Gerbang Perpisahan?


Apa sih yang paling dipikirin mahasiswa akhir selain skripsi dan kerja? Kalau saya sih teman.

Jadi ceritanya saya habis melo-melowan gitu sama teman-teman kos karena sebagian bakal wisuda bulan ini dan setelah itu bakal balik ke kampung halamannya yang berarti kami bakal berpisah jauh. Jaman masih kuliah aja kadang, sering bahkan, susah buat ngumpul komplit. Apalagi udah lulus, kerja, tinggal di beda-beda kota, nikah, wah udah lah nggak kebayang kita bakal bisa ngumpul lagi kapan. Saya jadi mikir, apa pertemanan ini emang berbatas waktunya ya? Wkwk. Ya walaupun suatu saat mungkin kami masih keep in touch, tapi nggak bakal dapet lagi kan suasana bareng-bareng kaya apa yang udah kami lalui saat masa-masa kuliah. Buat saya, temen-temen kos adalah orang-orang yang bisa saya sebut sebagai another definition of family karena mereka adalah...adalah...hmm...adalah...serius saya sampai kehabisan kata-kata karena nggak tau harus mendeskripsikan mereka seperti apa. Mereka paket komplit.

Nah btw, jadi kepanjangan. Awalnya saya mau bilang, ceritanya lagi melow-melowan gitu sama teman-teman kos eh tiba-tiba saya dapet chat iseng dari temen SMA saya yang akhirnya berujung ngobrolin makin susahnya ngumpul bareng. Dia bilang ini kah yang namanya the end of friendship at early adulthood? Huhu makin melow~

Tapi iya kan? Ketika kita udah punya lingkungan baru dan teman-teman baru, bakal susah banget buat menjadwalkan ketemu untuk sekedar ngobrol sama teman-teman lama. Jangankan untuk ngobrol, hanya sekedar berkomunikasi aja kadang sampai lupa karena 'terlalu sibuk' dengan hal-hal baru kita. And it's sad to admit. Dan kalau udah gitu, kita jadi kehilangan masa-masa asiknya waktu yang kita habiskan bersama mereka dulu. Time will never get it back as it used to. Hiks. Tapi, nggak ada yang bisa disalahkan juga. Hidup terus berjalan. Waktu apalagi. Kita nggak bisa stuck sama satu keadaan dan nggak move forward. Dan hal tersebut mau nggak mau mengharuskan kita buat dinamis sama satu dan lain hal. Termasuk teman. Tuntutan, pekerjaan, pendidikan, menyatukan kita dengan orang-orang yang kemudian kita sebut teman, tapi kemudian setelah tuntutan dan pekerjaan itu selesai, kita punya tuntutan dan pekerjaan baru dengan lingkungan baru dan orang-orang baru pula yang mana hal tersebut bisa sangat mengurangi intensitas hubungan kita dengan teman yang ada di tuntutan kita terdahulu. Busetdah sekalimat panjang bener. Walhasil, segimana pun kita masih keep in touch sama teman lama kita, kita nggak pernah bisa benar-benar dapet apa yang dulu pernah kita lalui. Dan karena keparnoan inilah saya kadang suka merasa kangen sebelum berpisah. Haha lebay ya. itu juga yang terjadi ketika saya masih KKN. Saya suka diem gitu natap sekitar, siap-siap kalau saya bakal kangen sama tempat, suasana, dan orang-orang di sana.

Dan momen pas KKN itu pun terjadi lagi. Di mana saya tiba-tiba throwback ke momen-momen yang udah saya lalui bersama teman-teman kos. Senang, sedih, sakit, ketawa, nangis, kelaparan, foya-foya, nggak punya duit, tumpeh-tumpeh rejeki, kemalingan, dimarahin ibu-bapak kos, tidur di masjid, berantem, piknik bahagia, nge-camp, curhat, semuanya. Semuamuanya mendadak jadi precious moments banget. Empat tahun mendadak jadi berasa empat hari huhu.

Sampai saat ini saya juga tetap keep in touch sama teman-teman SMA saya, bahkan sama teman SMP juga, bahkan sama teman SD juga. Tapi ya itu tadi, time will never get it back as it used to. Momen nggak akan bisa terulang, tapi seenggaknya saya bisa mengobati rasa kangen dan bernostalgia dengan masih bertemu dan ngobrol sama mereka.

So what then?

Tetep sih, treasure this moment. Treasure your people today. Say thanks to them for making your life so colorful!
Teman Seperkosan

Senin, 13 Juni 2016

Pada Suatu Hari


Belakangan, saya semacam lagi berada di fase ‘I miss the old happy me' yang mana saya jadi sering merasa khawatir, gelisah, takut, nggak PD, dan perasaan insecure lainnya. Saya nggak tau kenapa bisa terjadi. Mungkin karena memang banyak hal yang suka bikin gemaaaaaz akhir-akhir ini.

Saya jadi bertanya-tanya, apa yang sebenernya salah dengan saya? Kenapa bukannya saya bisa lebih mengatur segala sesuatu tapi saya malah semakin don’t know what to do. Saya merasa, entah kenapa, dulu saya bisa banget berpikir positif di segala sesuatu yang sedang saya jalani even it is a bad one. Tapi kok sekarang, rasa-rasanya justru pikiran saya lebih didominasi oleh pikiran negatif. Kalau dulu begitu terlintas pikiran negatif di pikiran saya, saya langsung menggubrisnya dan mengganti dengan pikiran positif, sekarang saya jadi membiarkan pikiran-pikiran itu bertengger di pikiran saya dan bahkan saya mengucapkannya. Hal yang dulu saya selalu mencoba untuk menahan.



Sampai suatu hari saya sadar kalau I've been in a wrong way and I have to get back. Saya berharap kalau saya bisa menjadi the old happy me dan bahkan lebih baik dari itu. Dan ya, Allah seperti selalu punya cara untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Pagi-pagi saya lagi nonton TV, saya liat seorang artis lagi diwawancara tentang kisah hijrahnya. Kurang lebih dia bercerita bahwa dulu yang dia kejar adalah kebahagiaan dunia dan merasa hidupnya selalu gelisah hingga pada suatu hari dia sadar bahwa dia harus berubah. Dalam doa sapu jagat disebutkan bahwa: Ya Allah, berilah aku kebaikan di dunia dan di akhirat. Dan jauhkanlah aku dari siksa neraka. Sehingga dia sadar bahwa seharusnya yang ia kejar tidak hanya kebahagiaan dunia semata. Yang dulu dia keseringan pengen beli barang, sekarang jadi mikir-mikir dulu apa barang itu bermanfaat atau enggak. Kemudian, dia juga jadi seketika tenang karena sadar kalau karunia Allah itu amat banyak dan satu lagi, ini sih yang dulu sempat saya pegang tapi kadang suka goyah: kebahagiaan itu letaknya di taat. Dia percaya, kalau karunia Allah memanglah sangat banyak dan satu-satunya cara untuk bersyukur adalah taat, melakukan perintah-Nya.



Nggak cuma sampai di situ, dilalah saya punya janji ketemuan sama orang DPD RI Jogja. Sebenernya magerin banget kan bulan puasa gini siang-siang harus ke kantor yang saya belum tau di mana, mendingan saya bobok di kos aja kan. Tapi, Allah eamng udah punya rencana. Akhirnya saya datang lah ke kantor DPD RI yang kemudian saya ketemu sama staff khusus yang udah saya bikin janji. Ngobrol ngobrol ngobrol dan menyampaikan tujuan ketemu beliau, selain saya jadi tahu tentang beberapa hal, di akhir beliau bilang untuk mencoba beraffirmasi positif. Kata affirmasi bukanlah asing buat saya, I used to hold it as my faith juga di mana apa yang saya inginkan, saya akan memperlakukannya seolah-olah saya sudah menerimanya. Pertemuan dengan beliau kaya jadi semacam pengingat saya aja sih kalau saya sudah agak melupakan things I used to think and hold.



Semua kegelisahan, kekhawatiran, dan kekecewaan pada diri sendiri jadi bisa seketika menghilang gitu aja dengan cara-Nya. Sebenernya bukan dua hal itu saja yang terus membuat saya jadi feel so releived, tapi ada banyak hal-hal kecil yang terjadi di sekeliling saya juga yang bikin saya jadi merasa forever grateful to be here with everything I have right now. Yang terpenting dari itu semua, untuk memulai sesuatu dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik letaknya bukan pada seberapa besar orang lain menginspirasi kita sih, tapi lebih kepada berurusan sama diri sendiri mengenai memilih melanjutkan hidup dengan apa yang 'baik' untuk kita. In this point is looking for true happiness is not only seeking for now, but also we have to think for hereafter. And it is somehow the only thing that could make us relieved even in our worst day. Insecurity, anxeity, disappointment, and any other restless feelings coming over are perhaps because we are too busy thinking our world life without trying to do our duty as His servant. Thus, we let negative things fill up our mind which then ends up  being reckless for all His blessings.

And now I feel so relieved.

Minggu, 20 Desember 2015

Experiencing KKN

Basi banget aja sih sebenernya kalau saya baru nulis tentang KKN sekarang. But, here we go!

KKN. Identik dengan berbagai kepanjangan, dari  Kuliah Kerja Ndolan, Kisah Kasih Nyata, Kuliah Kok Nikung, sampe berbagai kepanjangan absurd lain. Kalau saya, bakal menamai KKN ini dengan Kuliah Kerja Nyenengin.

Koripan I

Tipikal rumah di Koripan I
Posko tampak samping
 
Ruang tamu Posko

Ruang tengah Posko



Pos Kamling RT 5&6 - A favorite place to go


Sebenernya dari sebelum berangkat KKN saya udah niat mau nulis tentang KKN-an dengan maksud berbagi cerita aja siapa tau ada yang butuh informasi khususnya untuk adik-adik angkatan. Tapi entah kenapa baru 'sempet' nulisin sekarang, yang mana nggak tau masih berguna atau nggak. Yaudah gapapa, saya mau nostalgia aja wkwk. Ada banyak isu kurang mengenakan dari sebelum pemberangkatan. Dipalak wargalah, nggak ada airlah, dan serentetan isu menakutkan lainnya yang saya lupa apa aja saking uda lamanya. Di saat temen-temen saya pada males untuk berangkat KKN, saya waktu itu merasa excited karena saat itu adalah sat-saat berkabung buat saya. Saya merasa harus punya kegiatan biar pikiran saya nggak kosong. Dan KKN ini sukses mengembalikan senyum saya. Eaak.


Pada dasarnya, saya emang suka kegiatan sosial. Sebelumnya, saya juga pernah tergabung dalam program FBS Mengajar-nya BEM FBS 2013. Dengan waktu yang sama, sekitar sebulanan, saya dan teman-teman 'mengabdi di masyarakat' untuk mengajar anak-anak di Pleret, Bantul. Capek sih, tapi nagih. Ada secercah kebahagiaan tersendiri ketika bisa membantu, berbagi ilmu, dan melihat anak-anak tersenyum. Karena pengalaman inilah, saya jadi gabung di CAC (Coin A Chance) Jogja yang concern untuk membantu anak-anak kurang mampu untuk tetap bisa bersekolah. It's precious moment bangetlah ketika melihat orang tua dan anak tersenyum begitu kita dateng menginformasikan mau memberi beasiswa sekolah :')

FBS Mengajar BEM FBS 2013 Kabinet SEDULUR

Setiap orang punya sudut pandang dan pengalaman yang berbeda. Kalau menurut saya pribadi, KKN ini merupakan miniatur kita dalam berinteraksi dengan masyarakat. Tinggal langsung di tengah-tengah warga memberi pengalaman yang cukup untuk melihat secara langsung bagaimana hidup dan terjun langsung di masyarakat (Yaelah kebanyakan ngomong langsung). Kami merasakan langsung bagaimana warga menanggapi kehadiran kami baik mengenakkan maupun kurang mengenakkan. Contohnya, di hari kedua kami tinggal, kami mendapat kritikan dari seorang warga tentang sifat kami yang tidak se-srawung dari kelompok sebelumnya (karena ada 2 shift). Baru dua hari cyin, ibaratnya masih jet lag, baru bebenah, udah nge-judge gitu, ngalah-ngalahin psikolog. Hebat syekaleee. Tapi overall, warganya super ramah dan baik. Saya juga nggak ngerti, ini kami orang asing tapi diperlakukan seolah-olah seperti  saudara mereka yang baru dateng dari jauh. Jadi untuk adik-adik UNY yang mau KKN, saya menganjurkan banget untuk ikut KKN shift khusus daripada mandiri. Merasakan tinggal di tengah-tengah masyarakat desa-nya itu loh, precious banget.

Ngapain aja selama KKN? Banyak! Banyak tidur maksudnya. Haha. Well, KKN ini mengharuskan setiap kelompok untuk mempunyai proker kelompok dan individu. Terserah mau apa aja, yang penting bermanfaat dan melibatkan warga dalam menjalankan proker itu karena kalau cuma ngerjain sendiri, apa gunanya dong tinggal di situ? Numpang tidur doang? Intinya, libatkanlah warga baik untuk proker kelompok maupun individu dan karena warga lebih suka yang praktis, pilihlah proker yang aplikatif, nggak melulu teori.

Hal yang paling favorit buat saya adalah.....anak-anak! Walaupun mereka emang kadang nyebelin banget, nakal, terlalu jujur (suka bikin nyesek kan kalo terlalu jujur? -_-), dan super nyapein karena banyak maunya, tapi di waktu yang sama mereka juga mood booster dan emang yang paling deket dengan kami. Gimana enggak? Setiap hari dateng ke posko entah buat ngerecokin rumah atau mengeksploitasi batre HP buat nge-game. Fiuh. Tapi nggak dapet dipungkiri sih, betapa membahagiakannya melihat antusias mereka begitu kami dateng, betapa ikut kecewa juga melihat kecewanya mereka ketika mereka tau kami nggak bisa nemenin mereka. Rasa capek udah ilang aja rasanya. Diajak main gobak sodor, diajak jalan-jalan ke sawah, ke gunung lupa namanya, ke beton, dan sejumlah hal membahagiakan lainnya merupakan pengalaman yang paling memorable.


We all had fun


Kids on the kindergarten


Favorite boys

Another cutie

Karnaval 17-an

Awarding the winners of Lomba Mewarnai

Usai senam

Witness that sleeping kid? He's so naughty but super cute at the same time!

PKK rutin
Lomba tarik tambang

Malam tirakatan

Saya merasa beruntung, saya dapet tempat yang serba lebih dari cukup banget. Dari Pak Dukuhnya, warganya, anak-anaknya, sampe rumah yang kami tinggali. Semuanya lebih dari cukup. Dan saya merasa lebih beruntung lagi karena saya punya tim yang loveable :') Kami punya starting point yang sama di mana sebelumnya masing-masing dari kami belum saling mengenal. Jadi, rasa-rasanya adil aja sih. Tinggal sebulan dan serumah bareng kayanya lebih dari cukup untuk mengenal satu sama lain. Kekurangan dan kelebihan bukan lagi hal yang bisa untuk ditup-tutupi. Semuanya kebongkar aja gitu, mana yang ngentutan, ngupilan, ngorokan, sampe tau mana yang ibu-able (si ibu Zaen) dan bapak-able (si Davit) haha. Dibanding kelompok lain, kelompok saya termasuk kelompok yang jarang dolan pas KKN-an. Kami kebanyakan main UNO, ngejedog (?) dan tidur di posko. Tapi paska KKN, di saat kelompok lain udah pada bubar, kami masih dolan bareng walaupun sekarang intensitasnya udah berkurang (yang sudah saya duga dari awal wk). Saya tipikal orang yang nggak mau ngilang gitu aja ketika saya sudah nyaman di suatu tempat, maka dari itu saya berusaha untuk tetep keep in touch sama mereka dengan cara ngomen -ngomen PM di BBM mereka haha maapin. Dari yang deket, pasti ada yang lebih deket, ya kan? Kalau Dina suka curhat-curhatan sama Anip, saya juga punya teman curhat: Arum. Kami berdua bahkan masih sering jalan bareng sampai sekarang. Setiap pergi sama Arum, kayanya adaaaa aja hal kocaknya yang habis itu kami menertawakan kebodohan kami sendiri haha. Orang yang juga agak sering dengerin my pointless drama adalah Irham. Dia juga yang nyemangatin di saat saya down dan butuh temen. Kan terharu wkwk. Orang yang sering saya repotin lainnya adalah Imam alias tukang gojek yang mau aja nganterin wk. Anu, di Jogja udah ada gojek, nggak sekalian daftar aja, Mam? Dan segala kebaikan masing-masing orang di kelompok KKN 1065 yang nggak bisa saya sebutin satu-satu. Each of you guys is so unforgettable kok. Satu hal yang pengen saya bilang: don't forget each other ya, we once had really good time together. (Jangan lupain satu sama lain ya, kita pernah punya waktu indah bareng).

Those names
Menonton perlombaan 17-an

Smiling face during massage


Doing our work


Ibu dan Bapak :'D

Night walk

idk
Morning walk

Our only one dolan

Experiencing KKN buat saya adalah salah satu pengalaman yang paling mengesankan di masa kuliah. Nggak cuma dapet kenangan dan pengalaman, tapi juga pelajaran bagaimana beradaptasi, memanaj konflik, serta dealing with new people and society which is more precious than any other things. Karena catetan ini sudah cukup panjang dan jadi bikin males baca mending saya sudahi saja. Maaf udah bikin sakit mata karena kebanyakan nyampurin bahasa Inggris. Da saya mah emang anaknya sok Inggris, gimana enggak? Tiap hari makanannya bahasa Inggris mulu, gimana nggak terpengaruh ya kan. Semoga catetan yang niatnya berbagi tapi jadi nostalgia ini bisa bermanfaat untuk adik-adik yang butuh sedikit pengetahuan tentang pengalaman KKN, atau kalau nggak bermanfaat ya semoga seenggaknya tulisan ini menghibur (?). Menghibur dan jadi bernostalgia bagi kalian yang sudah pernah KKN ;)

Sabtu, 28 November 2015

Wisuda Hari Ini

Hari ini, untuk pertama kalinya, saya dateng ke GOR untuk menghadiri wisuda. Maksudnya, menghadiri yang diwisuda. Saya belum.  Sebelumnya pernah menghadiri wisuda, tapi di kampus lain, bukan kampus sendiri. Udah lama sih sebenernya saya mupeng mau ke GOR 'nyelametin' yang wisuda. Tapi adaaaa aja halangannya. Entah ada acara lah, lupa lah, males lah, dsb. Sampai akhirnya hari ini saya bener-bener menyempatkan waktu dateng ke GOR buat ketemu dan memberi selamat!

Akhir-akhir ini, mungkin karena udah menginjak 'mahasiswa semester atas', saya merasa makin sering 'nyelametin' orang wisuda. Dari kakak-kakak angkatan sampai temen-temen yang ambil D3. Temen-temen angkatan saya belum pada lulus, ya karena emang belum waktunya. But I guess, next year is gonna be the time! Tahun depan mungkin saya bakal lebih sering ngedatengin GOR pas wisuda karena temen-temen seangkatan yang pada rebutan lulus. Semoga tahun depan saya juga yang dikunjungi di GOR. Semoga juga udah ada yang gandeng. Ada yang dateng ngasih waktunya buat kasih bunga dari kampus sebelah. Lah baper. Pokoknya semoga saya dan temen-temen bisa lulus tahun depan :')

Urusan wisuda dan kelulusan ini kayanya emang topik yang sangat hits di kalangan mahasiswa semester atas. Saya dan temen-temen sering berdiskusi tentang hal ini. Dari mulai mau ambil judul apa, pembimbingnya siapa, proposal udah sejauh mana sampai mau kerja apa entar. Hal terakhir ini nih yang kayanya paling menghantui saya. Mau kerja apa? Sebenernya sedih dan malu ngakuin ini, tapi setiap ditanya, 'Mau kerja apa entar?' Pikiran saya masih mengawang dan nggak ngasih jawaban pasti. Sedih nggak sih? Tapi ternyata, bukan cuma saya yang merasakan. Temen-temen saya juga punya jawaban yang sama: nggak tau. Kemudian kita bengong.

Kalau ngomongin impian, tentu saya punya kerjaan impian dan di kota mana saya ingin tinggali. Jujur, saya pengen kerja di kedubes, ya ibaratnya anak sastra inggris mana sih  yang nggak mau kerja di kedubes? Tapi ya gitu, saya bener-bener buta informasi tentang itu. Ya mungkin karena saya belum ngerasa urgent banget juga sih ya buat nyari-nyari infonya. Kadang saya juga mikir mau kerja di penerbitan. Saya suka banget baca novel. Penerbitan? Bakal jadi surga banget kan buat saya? Tapi juga, kayanya saya belum ngerasa so capable buat jadi editor. Jadi translator bisa sih, tapi basic saya bukan translation karena saya ambil konsentrasi linguistics. Linguistics? Harusnya kerja di Balai Bahasa dong! Iya sih, tapi kan basic saya bahasa Inggris. Di Balai Bahasa objek penelitiannya biasanya bahasa lokal. Hmm.. Dan kayanya juga bakal ngantor banget yang bakal neliti kosakata satu bahasa yang mau punah misalnya. Actually, I'm not really interested in it. Yang jelas, dengan jurusan yang saya bawa ini, saya bakal prefer ke kota-kota besar. Walaupun saya nggak ngerasa belong to this major (haha!), saya suka banget bahasa Inggris dan nggak mau jauh-jauh dari bahasa Inggris alias bahasa Inggris saya harus saya pake, baik untuk speaking maupun writing. Maka dari itu, saya pilih kota besar karena kota kecil nggak terlalu menawarkan kepengenan saya itu. Saya mupeng Bandung sih sebenernya, Jakarta kota berikutnya karena saya melihat peluang yang besar untuk karir saya dalam bahasa Inggris ini. Tapi, kota yang saya tinggali saat ini, Jogja, juga punya peluang yang cukup besar sebenernya makanya saya bingung mau tetep stay di sini atau move on to the other place. Labil ya. And yeah,  who knows what will happen tomorrow even a second ahead.

Kemudian saya sadar, mikir masa depan itu penting, tapi lebih penting melakukan hal yang sudah ada di depan mata, ngerjain proposal misalnya. Btw, minggu depan saya seminar proposal! Minta doanyaaaa. Dosen saya bilang, 'Skripsi itu sekali seumur hidup, find something interesting and make the most of it that you could remember in your lifetime.'

Untuk itu, saya mohon doa dari semuanya di sini, baik yang saya kenal maupun enggak. Doain ellis lulus tahun depan ya. Skripsinya dimudahkan, pembimbingnya dapet yang terbaik dan saya pengenin. Minta doanya. Sebelum dan sesudah doa, sholawat. Insya Allah setiap doa berbalik kepada pendoanya. Makasih ya mumumu. Ini saya mau narsis nyicil biar ketularan.

Senin, 11 Mei 2015

What a Day!



Entah saya harus menyebut apa untuk ini hari. Deg-degan, kesel, capek, bingung, seneng, kecewa, excited semuanya berkumpul jadi satu. Seolah hari ini jadi hari yang sangaaaat panjang. Dan ya, saya akan mencoba meruntut satu per satu.

Dari 52 minggu dalam setahun, entah kenapa harus di minggu yang sama untuk presentasi tiga mata kuliah di semester yang semakin tua ini. Sama kaya: dari tujuh milyar orang di dunia ini, kenapa cuma kamu yang aku mau. Lah baper. Dan dua presentasi di antaranya jatuh di hari yang sama yaitu Kamis. Diawali dengan presentasi Stylistics, saya memulai hari yang sesuatu ini. Saya nggak ngerti, entah takdir atau nasib, kelompok saya menuai interupsi yang cukup banyak ketika berjalannya presentasi. Terutama bagian saya dan Sarah. Wah, habis deh. Padahal kelompok minggu kemarin, lancar jaya bahkan menuai pujian. Maksud hati menambahkan materi, malah banyak diinterupsi. Dikasih PR pula. Ckck. Padahal juga, kelompok setelah saya, nggak banyak (dikit banget malah) diinterupsi, nggak juga dikasih PR. Huft, nasib.

Selesai presentasi Stylistics, saya dan teman-teman satu grup pulang ke kos untuk mempersiapkan presentasi berikutnya:  A e s t h e t i c s, yang mana buku pegangannya berjudul The philosophy of the Art yang mana (pula) itu buku nggak bakal bisa dipahamin hanya dengan satu kali baca. Sumpah, untuk pertama kalinya saya presentasi nggak paham materi. Entahlah, saya bingung banget mencerna buku ini yang mana (lagi) membuat saya jadi super paranoid dan nggak masuk kelas Academic Writing karena mencoba memahami materi ini yang dipresentasikan siangnya. Aslinya, dibanding Stylistics tadi, saya lebih parno menghadapi presentasi Aesthetics karena materinya yang rumit dan dosen yang mengampunya berlandaskan filsafat. Jreng. Tapi, ternyata hidup memang gitu. Kadang, yang kita harapkan terjadi malah berbalik. Saya masih nggak nyangka kenapa presentasi Stylistics saya menuai banyak interupsi dan presentasi Aesthetics saya sama sekali tidak diinterupsi pada saat berjalannya presentasi. Padahal, nggak jarang dosen pengampu Aesthetics menginterupsi dan bertanya-tanya mengenai materi yang sedang disampaikan. Anehnya, kelompok saya nggak digituin, ya walaupun pada akhirnya memang ditanya, tapi itu mending banget. Nggak macem-macem pertanyaannya. Ajaib kan?

Setelah selesai presentasi, saya tentulah amat teramat sangat lega sekali. Sarah dan Fulan yang satu grup di Stylistics dan Aesthetics tadi mengajak untuk rewarding ourselves setelah minggu ini akhirnya menyelesaikan tiga presentasi dengan cara makan enak! Awalnya saya menolak karena saya sudah janjian sama degem (dedek gemesh) yang mau saya les-in. Ini hari pertama saya ketemu dia. Tapi ya gitu, karena saya setanable alias gampang banget disetanin, saya kena bujuk rayu maut mereka dan akhirnya mau ikut! Padahal selesai presentasi jam 3 dan saya janjian ke rumah degem jam 4, jauh pula rumahnya. Alamak.

Saya dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk makan ramen di sebelah OB. Sebenernya saya nggak lapar, sebelum presentasi Aesthetics saya makan dulu. Tapi karena saya juga merasa harus awarding myself jadi ya saya mau-mau aja. Toh entar mau nge-les daripada nanti kelaparan di sana, pikir saya. Dan bener aja, saya baru selesai makan jam 4. Saya ngeburu-buru Fulan untuk pulang duluan nganter saya balik ke kampus. Nyampe kampus, saya buru-buru masuk halte dan nggak sadar kalau salah ambil halte. Padahal udah dibilangin Tanti naik dari mana, tapi saya lupa banget. Begitu masuk halte, mau bayar, saya kaget di dompet saya cuma tinggal uang seribu-an empat lembar dan beberapa koin receh. Saya langsung bergumam, waduh gimana baliknya nih?! Pas makan ramen tadi, karena saya buru-buru, saya bilang ke temen-temen biar saya yang bayarin dulu, gantinya besok aja di kampus. Saking buru-burunya, nggak sadar saya nggak nyisain duit banyak di dompet. Piye iki! Tapi, saya langsung kalem dan menghibur diri kalau ATM menyebar di mana-mana. Fiuuh. Karena salah ambil halte, ya akhirnya muter-muter dulu. Makin lama. Saya bilang ke degem kalau saya dateng agak telat, bukan agak lagi sih, tapi telat banget. Untungnya, dia nggak keberatan. Sampai di halte tujuan, saya tunggu jemputan degem sama mamahnya. Tapi mamahnya ternyata lagi mandiin adiknya, walhasil  si degem ngejemput saya jalan kaki. Oke nggak apa-apa lah gantian nunggu.

Saya langsung disambut baik sama mamah si degem dan neneknya. Si ibu ramah banget! Langsunglah saya dan degem ke tempat belajar. Saya langsung meng-iyakan perkataan Tanti yang bilang kalau si degem doyan banget cerita dan ngobrol. Dan entah kenapa saya malah buka Notebook saya yang akhirnya ditanyain sama dia, 'Mba, punya film nggak?' ya gue bisa apaaa?  T_T Ujung-ujungnya kita malah ngomongin film dan lagu. Ini degemnya lebih ngehits dari saya, dia update lagu, film, dan drama banget. Saya kebanyakan geleng-geleng kepala begitu ditanyain, 'Mba, tau lagu ini itu gak? Film ini tau gak? Drama ini itu punya gak?' Awalnya, saya mikir saya bakal buat anaknya bete nggak pas belajar. Eh malah lama kelamaan, yang bete saya. Dek, akoh capek. Jangan tanya macem-macem dong. Tutor macam apa gue -_- haha.

Ada cerita lucu sekaligus memalukan. Karena udah kelewat maghrib, saya sholat dulu. Tapi sebelum sholat, saya izin ke degem mau ke toilet. Ditunjukinlah sama dia di mana letaknya. Tipikal toilet, tempatnya di belakang dan agak jauh dari ruang belajar tadi. Saya masuk, ucet gelap amat. Mana lampunya nih?  Tapi saya kalem aja, menganggap nggak apa-apa. Begitu mau ke luar, saya tarik gagang pintu, dan glek! Saya nelan ludah. Nggak bisa dibuka! Deg. Saya coba sekali lagi, coba lagi, coba terus. Nggak bisa dibuka juga. Paniklah saya. Saya nggak bawa HP, toilet jauh dari ruang belajar, dan di belakang sepi. Whooaaa saya udah panik banget! Mana gelap! Saya cuma bisa ngomong dalam hati, dosa apa gue ya Allah T_T  Karena nggak tau mau ngapain lagi, saya gedor-gedor pintunya dari dalem sambil bilang, 'Ibuuu, Diffaaa, kok pintunya nggak bisa dibuka ya?' dordordordor  'Ibuuuu, Diffaaa, pintunya nggak bisa dibukaaa.' 'Ibuuuu, Diffaaaa' Tetep nggak ada jawaban, saya udah hopeless. Nggak tau mau gimana lagi. Lemes deh. Saya goyang-goyang lagi gagang pintunya. Saya tarik. Tetep aja nggak bisa. Saya jadi keinget Rahma yang pernah ngerasain hal ini juga di kos. Dia lebih parah, kekunci di kamar mandi tengah malem! Ma, now I know what you felt *sambil nangis di pojokan*. Mbuhlah, saya bisa apa kecuali cuma tarik-tarik gagang pintu. Dan ketika udah mulai menyerah, plak. KEBUKA! Sumpah demi apa saya bahagia banget. Akhirnya, ke luar juga ya Allah. Saya langsung ambil wudhu dan sholat berterima kasih kepada Tuhan saya sudah mengizinkan saya menghirup udara segar lagi. Haha!

Entah kenapa saya ngerasa capek banget dan nggak kerasa aja udah jam 7 lewat. Akhirnya saya akhiri deh belajar bersama hari ini. Karena baru hari pertama, saya anggap ini baru perkenalan-perkenalan aja. Tapi si degem malah minta diajarin kosa kata. Duh dek, besok lagi aja. Eh habis itu malah, si degem ngopi-ngopi drama Korea dari Notebook saya, walhasil nunggu lagi. Saya cuma bisa tarik nafas dalam-dalam. Baru sekitar jam 8, saya benar-benar udah berkemas. Akhirnya pulang juga. Begitu pamit ke si ibu, eh saya malah di-stop nggak boleh pulang dulu. 'Sebentar ya sebentar, tunggu lima menit lagi. Ini sudah Ibu masakkin mie. Masuk lagi, sebentar, tunggu.' Saya tetep maksa pulang karena udah malem, eh tapi si Ibu malah bilang, 'Nanti saya antar pulang. Sudah masuk lagi, tunggu lima menit.' Saya cuma bisa nyengir dan nggak bisa menolak lagi. Makinlah saya merasa amat merepotkan. Udah dikasih cemilan, dikasih makan, mau dianter pulang pula. Saya masih kenyang aslinya, di detik-detik terakhir, saya udah nggak kuat, nggak bisa masuk lagi. Saya suruh degem buat ngabisin dan dia mau! Haha. Makanan saya lagi dimakan sama dia, eh Ibunya muncul ngira Diffa ngerecokin makanan saya. Duh. Saya bilang, saya udah makan dan masih kenyang. Ibu hanya ber-oh. Usai makan, saya sama Ibu malah ngobrol-ngobrol dulu. Ya namanya jug baru ketemu, tipikal orang Indonesia, nanyain macam-macam. Dan akhirnya, saya dianterlah pulang menggunakan mobil. Diffa minta ikut. Obrolan saya sama Ibu makin panjang lebar di mobil. First impression  saya, ini keluarga baik banget. Ramah lagi. Malah sebelum pulang tadi, saya ditawarin nginep. Oh gosh, jaman gini good people do exist!

Saya bersyukur banget dianter pulang sama si Ibu, saya inget di dompet saya cuma tinggal berapa ribu. Ditambah si Diffa bilang kalau ATM-nya jauh kalau mau jalan. Ya walaupun sebenernya setelah dikorek-korek di dalem dompet dan tas duitnya cukup untuk naik TJ balik. Tapi ya gitu, recehan semua :')
Rezeki dan cobaan emang bisa dateng kapan dan di mana aja. Tapi, Allah juga selalu ngasih solusinya. Walaupun diinterupsi banyak di kelas Stylistics, saya jadi sadar, hal kecil pun emang nggak boleh dispelein gitu aja. Jujur, saya lebih nyiapin presentasi Aesthetics dan menganggap presentasi Stylistics nggak begitu serius. Dan kena kan akibatnya? Justru Aesthetics yang saya parnoin banget, malah mengalir gitu aja tanpa ada kesulitan yang berarti. Emang sih, everything happens for a reason. Dan ketika duit saya tinggal receh buat naik TJ, Allah kasih tebengan yang nggak perlu ngeluarin duit. What a day bangetlah pokoknya hari ini! Eh, tapi saya masih bertanya-tanya sih kenapa saya bisa sempet kekunci di toilet. Apa ya hikmahnya?