Selasa, 01 Desember 2020

Kembali

 Malam itu Dinta menyetir ke Bandara dengan perut besarnya. Menjemput suaminya setelah business trip di luar kota. Tak lama menunggu, suaminya terlihat di pintu keluar melambaikan tangan.

"Kangen" ucap Dinta sambil berpelukan. Suaminya membalas dengan senyuman dan pelukan yang hangat. Lalu mereka menuju tempat parkir untuk bergegas pulang.

"Aku aja yang nyetir, kamu kan lagi hamil," ucap Firas.

"Oke," jawab Dinta riang, "tadi aku pergi buat beli baju bayi sama Mama. Lucu-lucu deh. Aku mau beli semuanya saking gemesnya haha"

Firas terlihat mengangguk.

"Menurut kamu kita butuh beli tempat tidur buat bayi nggak?"

"Menurut kamu gimana?"

"Harganya agak mahal sih. Kan kita juga belum siapin trolley, dll. Kita pending aja dulu kali ya. Kalo emang butuh nanti, baru beli. Gimana?"

"Boleh." Entah kenapa Firas agak diam hari ini.

"Nanti kita juga ke sana ya. Aku mau ajak kamu liat-liat."

"Oke."

"Gimana trip-nya? Seru?"

"Iya."

Dinta menyalakan radio untuk mengusir keheningan perjalanan pulang tersebut. Firas tidak seperti biasanya. Mungkin Firas lelah, pikirnya.

"Din," Firas tiba-tiba memanggil.

"Ya?"

"Din, aku suka sama orang lain."

Sontak Dinta menoleh ke arah Firas yang masih fokus menghadap ke jalanan. Ia terkejut hingga tak sadar membuka mulutnya. Mendengar perkataan Firas tersebut Dinta merasa sesuatu menusuk dadanya. Membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Dinta memindahkan pandangannya ke arah jalanan. Mencoba memproses apa yang baru dikatakan Firas.

"Kamu tau kan anak kita lahir bulan depan?" tanya Dinta dengan suara parau.

Firas masih terdiam dan memandang ke depan.

"Kenapa baru bilang sekarang?" tanya Dinta lagi.

"Aku baru sadar belum lama ini, Din."

Hanya ada alunan lagu dari radio yang menemani keheningan mereka. Sambil sesekali terdengar suara dengus nafas panjang dari Dinta. Dinta menengok ke arah kiri. Memandang ke arah luar jendela, mencoba menahan air mata yang terasa sudah menggenang di pelupuk mata. Mobil terus berjalan hingga pada akhirnya sampai di kediaman mereka. Dinta langsung  bergegas masuk ke dalam kamar sebelum Firas memarkirkan mobilnya di dalam garasi. Beberapa menit kemudian Firas menyusul Dinta. Namun, sebelum ia masuk ke dalam kamar, tangisan Dinta terdengar di balik pintu. Firas tidak ingin mengganggunya. Ia memutuskan untuk tidur di kamar yang lain, kamar calon anaknya.

Firas terbangun keesokan paginya. Tanpa istrinya di sampingnya. Ia beranjak mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Tak ada jalan lain selain harus masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil pakaian yang akan ia kenakan. Firas melihat Dinta masih terbaring di atas kasur dan masih terpejam. Biasanya Dinta sudah menyiapkan sarapan dan pakaian untuknya. Firas membuatkan bubur instan untuk istrinya yang ia letakkan di meja sebelah kasur. Ia memandang istrinya yang masih terpejam dengan perasaan yang entah kata apa yang bisa menjelaskan. Ia juga tak mau hal ini terjadi.

Pukul 10 pagi Dinta terbangun. Kemudian tersadar apa yang terjadi semalam. Ia mendengus panjang berusaha untuk bangun. Kepalanya terasa berat akibat menangis semalaman. Lalu ia tergopoh berjalan ke dapur untuk meminum susu hamil yang rutin ia konsumsi. Setidaknya bayinya harus baik-baik saja, ucapnya dalam hati. Dinta kembali termenung, teringat ucapan Firas tadi malam. Matanya kini kembali memanas, tapi ia mencoba untuk mengendalikan perasaannya. Ia kembali ke dalam kamar, menyadari ada semangkuk bubur di meja. Tak ada keinginan untuk menyantapnya. Dinta kembali menarik selimut dan melamun. Tak lama ponselnya berbunyi. Ternyata sudah ada banyak chat dari Firas menanyakan apakah ia sudah bangun dan sudah makan. Dinta mengabaikan pesannya. Kemudian ia terpejam kembali. Terlalu lelah untuknya.

"Din,"

Terdengar suara memanggilnya hingga Dinta terbangun.

"Kamu belum makan juga?" ucap Firas yang kini sudah di depan mata Dinta. Dinta melihat jam dinding menunjukkan pukul 12 siang lebih 13 menit.

"Aku khawatir sama kamu makanya aku pulang cepet. Ini aku bawain sup. Dimakan ya, kamu kan nggak sendirian."

Firas lalu mengambilkan mangkuk dan sendok untuk istrinya. Menyiapkan sup untuk disantap Dinta.

"Mau aku suapin atau mau makan sendiri? tanya Firas.

"Sendiri aja." Dinta menjawab singkat.

"Aku di depan ya, mau lanjut kerja. Kalau kamu butuh apa-apa bilang aja." Firas memberi tahu lalu keluar dari kamar.

Dinta menyantap sup dengan tidak antusias. Kalau bukan karena bayi di dalam perutnya, mungkin ia lebih memilih untuk tidak makan.

Malamnya Firas tidur di sofa ruang tengah setelah makan malam yang dia pesan dari makanan pesan antar untuknya dan Dinta. Ia masih segan untuk kembali tidur di kamarnya lagi. Mungkin Dinta belum bisa menerima kehadirannya, pikirnya. Keesokan harinya Firas tetap berangkat bekerja. Tanpa ada istrinya yang menyiapkan sarapan dan pakaian untuknya di pagi hari. Lalu pulang setengah hari untuk melanjutkan bekerja di rumahnya. Memastikan ia menyediakan makanan untuk Dinta walaupun makanan yang ia berikan tak pernah habis. Beberapa hari berjalan seperti itu. Dinta tetap tak pernah menyiapkan apa pun untuk suaminya. Sampai akhirnya Firas memberanikan diri untuk tidur di kamar bersama Dinta. Dinta menghadap ke arah kiri. Mencoba memejamkan matanya dan mengabaikan Firas yang tidur di sampingnya. Tak lama kemudian ia merasakan tangan Firas memeluknya sambil mengusap-usap perutnya.

"Papa udah lama ya nggak ngobrol sama kamu, Nak." Firas bersuara. Sementara Dinta hanya terdiam.

"Kamu udah tidur belum, Nak? Papa nggak sabar ketemu kamu. Kamu lahir yang lancar ya, biar Mama nggak sakit terlalu lama," Firas melanjutkan tanpa ada jawaban dari ucapannya. Dinta tetap terdiam. Firas masih memeluknya dari belakang. Hanya ada keheningan beberapa saat sebelum Firas melanjutkan ucapannya.

"Din, maafin aku ya. Maafin ucapanku beberapa waktu kemarin. Aku tau kamu pasti kecewa, sedih, dan marah sama aku. Maafin aku, Din. Aku benar-benar nggak bermaksud untuk nyakitin kamu.

Din, perempuan itu teman kantorku. Aku merasa ada ketertarikan sama dia. Mungkin karena sering ketemu dan kerja bareng. Tapi aku belum pernah bertindak apa-apa, Din. Nggak ada interaksi berlebih kecuali soal kerjaan. Maka dari itu aku minta bantuan kamu ya, Din. Bantu aku buat menghapus rasa ketertarikan aku sama dia. Bantu aku untuk menumbuhkan percikan-percikan itu sama kamu lagi. Aku pengen sama sama kamu lagi, Din. Aku kangen sama kamu."

Dinta tetap terdiam. Hanya terdengar isakannya yang tertahan.

Keesokan harinya Firas terbangun tanpa istrinya. Sambil mengumpulkan nyawa ia menengok ke segala arah mencari-cari Dinta. Ia ke kamar mandi melihat apakah Dinta di sana, tetapi kosong juga. Ia mulai panik. Mengecek semua sudut rumah. Jantungnya berdebar tak menemukan Dinta di mana pun. Hal yang ia takutkan terjadi, pikirnya. Matanya mulai memanas. Lalu ia mencari ponselnya dan mencoba menghubungi Dinta. Tiba-tiba suara pintu depan terdengar terbuka. Firas bergegas ke depan, lalu ia melihat Dinta membawa belanjaan sayur-mayur. Dinta tersenyum begitu melihat Firas. Sudah lama rasanya Firas tak melihat senyuman itu. Ia pun langsung memeluk Dinta dengan erat. Reflek barang-barang belanjaan Dinta terjatuh dari tangannya.

"Hari ini aku masakin makanan favorit kamu ya," ucap Dinta membalas pelukannya. Firas kemudian memeluknya semakin erat.

This entry was posted in

Selasa, 01 Mei 2018

Menuju Seperempat Abad


Saya jadi teringat, tahun lalu saya juga menulis tentang awal tahun ke-23 saya di sini. Waktu itu saya bilang saya nggak lagi hype ulang tahun, karena ya buat apa. Toh kita semakin dekat pada kematian. Tapi anyway, nggak lama ini saya baca blog-nya Kak Tirta alias @romeogadungan tentang postingan tahunannya mengenai usianya yang menginjak tahun ke-30. Isinya berupa kilas balik dan refleksi diri. Terus saya mikir, wah seru juga tuh. Saya bisa nostalgia dan teringat apa dan bagaimana perjalanan saya dari tahun ke tahun, seenggaknya buat saya baca dan kenang sendiri suatu saat nanti. Dan ya, yang saya bilang saya nggak mau terlalu hype ultah malah sekarang jadi ajang buat refleksi tahunan. Namanya juga Ellis, aneh malah kalau nggak labil. Eh tapi kan ini nggak hype, hanya refleksi aja *debating myself*.

Nggak banyak yang terjadi di tahun ke-23. Tapi, saya akhirnya meraih bachelor degree saya. Dulu saya berpikir, lulus/wisuda itu hal yang biasa aja. Karena toh banyak sekali orang yang mencapai hal yang sama. Sampai saya menemukan di sekitar saya, ternyata nggak semua orang punya kesempatan untuk meraih level ini. Ternyata juga ada orang-orang yang merasa seberuntung dan sebersyukur itu bisa meraih bachelor degree, entah karena faktor perjuangan secara materi maupun secara background pendidikan keluarganya. Saya? Saya tetap merasa nggak se-spesial itu sih sudah wisuda. Tapi, karena perjalanan menempuh wisuda ini benar-benar menguras jiwa, raga, air mata, dan dana haha akhirnya ketika saya sudah sidang, ternyata rasanya selega itu. Benar-benar lega.

Masa-masa skripsi ini super campur aduk. Se-campur aduk saat ketemu orang yang belum mampu kita lupakan sedang berjalan berdua dengan yang lain *apasih* *caper 1*. Saya nggak pernah mengira kalau saya akan menyelesaikan skripsi selama ini. Karena ya pada dasarnya saya bukan tipikal mahasiswa rebel yang, walaupun saya merasa agak salah jurusan, suka cabut dari kelas atau mangkir dari tugas. Mungkin bisa dihitung dengan jari berapa kali saya bolos kuliah. Jadi saya pikir, walaupun skripsi nggak akan mudah, seenggaknya saya bisa mengerjakannya sesuai rencana saya. Tapi ternyata, semua rencana menguap gitu aja. Dari awal saya dapet dosen pembimbing, jalannya udah di luar dugaan. Beberapa bulan pertama, saya masih woles. Tapi lama-lama, kok teman-teman seangkatan saya udah pada lulus ya. Saya mulai cemas, tertekan, dan hilang nafsu makan sehilang-hilangnya. Sampai puncaknya, setiap saya bangun pagi, bukan doa bangun tidur yang saya lakukan, bukan juga buka HP. Tapi, saya langsung menangis tanpa alasan. Saya juga nggak mengerti apa yang terjadi sama saya. Di satu sisi, saya tau skripsi ini bukan apa-apa dibanding permasalahan hidup yang lain. Tapi di sisi lain, dude, it's so much consuming. Saya bukan tipe orang yang mudah nangis anyway. Jadi kalau sampai saya nangis gitu aja, mungkin itu berarti saya benar-benar lelah dan nggak tau harus gimana lagi.
Pada akhirnya, saya menyadari, walaupun ini semua di luar kendali saya, nggak ada sesuatu atau seseorang yang bisa disalahkan. Bukan juga dosen saya, kampus saya, jurusan saya, atau saya sendiri. Setiap planet berputar pada porosnya masing-masing dan setiap planet itu juga menjalani fungsinya masing-masing. Begitu pun dengan manusia. Kita berjalan di jalan kita masing-masing dengan tujuan dan maksud masing-masing pula.

Btw, seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Tapi pepatah itu nggak akan nyambung sama apa yang mau saya tulis kok. Cuman mau memulai paragraf dengan kalimat itu aja. Karena walaupun udah kenal, udah sayang tapi kalau nggak berbalas ya buat apa juga *apasih* *caper 2*.
Di tahun ke-23, lagi-lagi saya menyadari betapa semua orang bisa berubah. Pun saya, kamu, dia, atau mereka. Dan perubahan itu bisa dalam bentuk apa pun. Bisa status, sifat, sudut pandang, maupun rasa. Orang yang berasa masih kemarin saling bertukar kabar dan cerita, jadi tempat berkeluh kesah, tau satu sama lain hari ini ngapain aja, bisa begitu drastis menjadi asing hari ini. Jangankan bertukar kabar, saling sapa aja enggak. Semuanya seperti kembali seperti semula: asing. Bedanya dengan orang yang benar-benar asing adalah kita pernah punya memori bersama. Dan sialnya, otak kita nggak diciptakan sama seperti memori di laptop yang bisa kita pilih untuk menghapusnya ketika kita nggak pengen memori itu tersimpan lagi. *Wagelaseh bahasa w dah kek anak galaw Tumblr belum? Hahaha*. Lucunya, ini bukanlah pertama kali yang saya rasakan. Dulu pernah juga beberapa kali merasakan hal yang sama. Tapi kok ya rasanya tetap sama: aneh. Aneh menjadi asing-bersama-dan kemudian asing lagi. Mungkin benar apa yang Gilang KR tulis, "Sayangnya, tidak peduli lima, atau sepuluh, atau bahkan dua puluh kali kita mengalaminya, tidak lantas membuat kita menjadi terlatih patah hati."

Di sisi lain, saya juga menyadari, orang yang dulu nggak pernah saya pedulikan keberadaannya padahal dia ada di sekitar saya, bisa begitu menakjubkan untuk dikenal. Orang yang selama ini saya kira "nggak baik" karena saya mendengar dari orang-orang, ternyata bisa jadi teman sebaik itu. Bahkan lebih baik dari yang saya bayangkan. Dia bisa jadi orang yang bisa saya andalkan dan saya percaya. Semua ucapan orang dulu yang pernah saya dengar tentang dia menguap gitu aja ketika saya mulai mengenal dia secara langsung. Dari sini saya jadi tau, kita nggak pernah bisa benar-benar menilai orang kecuali kita mau mengenal dan memahaminya lebih dalam. Dan nggak peduli sebaik apa pun kita, penilaian orang di luar bisa jadi sejahat itu.

Lain halnya mengenai sudut pandang hidup. Mungkin karena skripsi saya kemarin nggak berjalan sesuai rencana dan itu sangat amat melelahkan. Saya jadi memandang berbeda sekarang. Saya udah nggak punya "papan rencana" tentang apa-apa yang mau saya lakukan. Saya jadi cenderung untuk menjalani apa yang sekarang ada di depan mata dengan sebaik-baiknya. Dan ternyata, hidup seperti ini nggak se-"buruk" yang dibayangkan. Saya justru menemukan hal-hal yang di luar dugaan in a good way. So now I tend to let life surpise me. Hopefully I'm ready, or at least strong enough, to face it.

Ada beberapa hal lain yang saya alami di usia ke-23 saya. Tapi sepertinya, postingan yang awalnya diniatkan sebagai refleksi dan malah berujung curhat dan caper ini ternyata udah terlalu panjang. Jadi daripada saya semakin keliatan alay-nya dan menjatuhkan pencitraan saya, ada baiknya mungkin saya menyudahi saja. Walau saya nggak sedang mempunyai a board vision untuk menjalani tahun ini, tapi saya masih punya main goal dan harapan. Saya tentu nggak tau apa aja yang akan terjadi di tahun ke-24 saya. Bisa jadi lebih berat, atau lebih mudah, atau biasa saja, atau menakjubkan, atau menyedihkan, atau bahkan saya nggak punya waktu selama itu untuk menghabiskan 24 saya. Entahlah. Yet, now I'm in a state of "I accept everything that happens to me. For whatever it is. It's up to You, God. I'm gonna try my best to embrace it."

Selasa, 07 November 2017

Sometimes

Sometimes, you need people to cheer you up when you're turning low.
Sometimes, you need someone to just patiently listen to your complain and your story.
Sometimes, you need somebody to tell you that you are stronger than you think.
Sometimes, you need those people who can strengthen you to pass all of those obstacles.
Sometimes, you need at least one person to talk to so you don't feel all alone.
Sometimes, you need somebody who can be supportive in all of circumstances.

Yet, sometimes just sometimes, all you need is somebody to tell you that it's okay to cry out loud, it's okay to be broken, it's okay to feel down, it's never ever wrong not to always appear strong, and all of those would never make you any less meaningful.

Kamis, 12 Oktober 2017

Her Last Dress

I saw my mom walking into my room while I was laying down in the living room. I didn't really notice what she was doing. A moment later, she was out wearing clothes I had never seen before. She showed me up her new dress then asked me whether or not it fit her.
"Bagus kan bajunya?" said she.
"Enggak, biasa aja." I, typically, answered.
"Bagus ah,"
Then she went in my room again having another glance on how she looked in front of the mirror, I assumed. She continued mumbling.
"Kaya anak muda nggak sih ini?" asked she.
"Enggak. Udah nggak apa-apa."
"Buat Ellis aja tah? Lebih cocok buat anak muda kayanya,"
"Enggak, nggak usah. PD aja lagi,"
"Kan Ellis kurus, lebih pantes."
She kept telling me that the dress would fit me better, while I kept arguing that it fit her well, too.

Several days later, she got headache that led her into her death. I never knew it would happen that fast. Don't ask me how it felt. Losing mom meant losing a half of my life.
Months after she passed away, my aunt asked me to clean up my mom's drawer. She said that the clothes would be better shared to others who might need them. I opened up mom's drawer  picking up the clothes, then soon I found the dress we once talked about. I immidietely reminisced the convo I mentioned above. Inhaling while thinking how it could've been like this.  As soon as I exhaled, I was about to burst in tears. My aunt told me to keep it for my own. She knew that it's new. I guess my mom bought it with her back then. I still didn't think I would wear it. Instead, I put it in my drawer and thought I might want to give it to anyone else.

Later on, I don't know what my sister thought, she brought that dress from home. I asked her, "Kenapa dibawa ke sini? Emang mau dipake?" and still, neither me nor my sister, we didn't even try it. I once again thought that I might want to give it up. Until one day in this month, I opened up my drawer trying to pick which clothes I wanted to wear that morning. My eyes were caught up in that dress. Then in all of a sudden, I picked it up and decided to wear it for the first time.

You're right, Mom. It fits me well.
Couldn't believe this is the last dress you "gave" to me.

Senin, 14 Agustus 2017

A Cup of Talk

I love spending time alone. So does he.

There was one night when I went alone to a cafe with an intention to read journals. But not long after I had a seat, there was someone walked away passing my table. As soon as we noticed each other, we both were a bit surprised. As usual, we got silent for seconds then mumbling we didn't know each other. Of course, it was a platitude. We soon greeted each other. Apparently, he arrived earlier than me. I asked him to sit with me then a minute later he moved on to my table.

He started the talk by telling me how many (new) girls had a crush on him. Some tried to flirt on him, some gave him cheesy pick up lines, some others admitted they liked him and all. I was no surprised. It's so typical of him and he's kind of proud of it seen in his evil smile he was showing. He always says that he's handsome. Yes, he is. But his good looking face drops by everytime he tells me so, lol. We've been knowing each other since the first time we encountered the college life. I totally had no interest in him cause he acted as if he's the most handsome guy on earth. Meh, mlz bgt. Not long after that, something made us work together. As I got to know him better, I started to see the  good in him. We started having talks and sometimes having dinner together. So what's the good in him? He's so smart. He reads a lot of books. Like A-LOT. It's not only (classic) novels, but also books of philosophy, politics, history, so many theories, and so on. I kinda always look stupid when I talk to him. His knowledge is just too wide. I only have 10% of his knowledge perhaps. And what's other? Nothing. Lol. He had no sense of humor. I almost never laughed whenever he threw a joke for I never got the funny point. Then he'd say, "Hahaha, kan aku emang gak bisa lucu,"

At one moment on a particular event, he came in. I was out for a while without knowing he would come. As I got back, a girl who had a crush on him told me, "Mba, tuh dari tadi ada yang nyariin," I guess she was hurting while telling me so. Then another girl who used to be closed to him told me the same, "Udah ditungguin tuh," Guess who? Yes, it's him, "Aku mau ngomong." I knew it perfectly it's just an excuse so that he could go away from those girls lol. Told you. He has sort of...many 'fans'. Had no idea why. I kept telling him that if only those girls knew him better, they would definitely have a second thought to have a crush on him. He thought so. Lol. Yet, I did appreciate how he didn't take advantage of them. Right after he knew someone had a feeling on him and he thought he didn't share the same feeling, he'd stop. He even left their chats unread. So  I was chill. Never really cared about how many girls out there who admired him. It's his right to choose. As we all know, someone will always find a way to cheat even if we protect them so tight. So I had no worries. I let him do anything he wanted. 

He's full of dreams. And he told me some. He's so passionate about what he did. I supported his decisions even when I didn't really agree them. Cause yeah, he knew himself best so why should I tell him what to decide when it's all his life after all? Years after, something hit him hard. He knew that many people didn't like him, but he didn't stop. Rumors were spreading about him. I couldn't trust it tho. I knew he's not that good, but I knew it, too, he's not that bad. I made sure by asking him. He told me the truth without forcing me to be in his side. I believed in him.

Wait, I guess I'm being too far from what I've started at the very top of this writing. This would be too long if I have to reminisce each of inches I spent with him. I didn't know him for one or two weeks. It's been years. Well, let's go back to the cafe where I suddenly saw him. What we talked about then was...marriage. We shared our thoughts about it. Since we had the same background knowledge, we had the same thought as well. I told him I kind of think that marriage is a big deal. There are so many things to consider. He did think so. We mentioned the reasons one by one. Then I remember he once told me that he would marry at certain age. I'm one year younger than him. But it's like he's way older than me cause he looks that old lol. I told him it's two years to go until he reached that certain age he would like to marry. He answered that he kinda had a second thought then he added another five-year to his target of getting married. I laughed. Somehow, I knew it already. Then we continued our talk with different topics that night.

I never post any pictures of him tho cause I've been so picky about what to post especially in ig. Besides, we never really take any serious pictures together so I don't think it's so artsy enough to put it in my feed lol. Well, now, we don't see each other too often. He is busy as always. His mind is full of plans and of course books. He just can't stop trying to achieve what he wants and reading this and that. I let him do anything he thinks it's beneficial to him. It's true I have no idea where  to whom he'll come back. Whatever he decides, I'll never regret even a second. He's been a lesson after all.

Rabu, 12 Juli 2017

Mencicip Eropa

Karena beberapa teman saya meminta saya buat share di blog tentang cerita perjalanan ke Eropa kemarin, jadi ya now I'm trying to give it a go.

Sebenarnya saya agak bingung sih mau mulai dari mana dan mau share apa karena udah lama banget juga, jadi saya mungkin akan tulis secara highlight aja.



Saya pernah dengar pepatah yang kurang lebih bilang: "It is that feeling of willing is more powerful than the fulfillment. So, there are so many people that are really enthusiastic in wanting something but then after they get it, there's no something special," Nah, nampaknya pepatah itu ada benarnya juga. Saya nggak bilang kalau semuanya kerasa biasa aja dan nggak spesial. Tapi, karena saya (dan teman-teman) menghabiskan waktu berbulan-bulan persiapan untuk sampai di Benua Biru itu dengan susah payah nan berdarah-darah, jadinya ya semua proses dan perjuangan itu kerasa lebih berharga dan takkan tergantikan aja sih. Begitu sampai di sana, saya hanya bergumam "Oh, gini toh," hehehe. Namun, pada akhirnya, saya sadar kalau kedua "perjuangan" dan "pencapaian" punya kesan masing-masing yang sangat membekas.


Autumn leaves
Itinerary perjalanan saya (sebenernya "kami" sih, tapi karena ini blog saya jadi yaudah "saya" aja) awalnya adalah Paris-Praha (dan Teplice)-Berlin-Paris. Tapi, karena tiket promo ke Paris sudah habis, akhirnya berpindah haluan penerbangan ke Amsterdam. Kenapa ke Amsterdam padahal acaranya di Praha? Tidak lain tidak bukan karena tiket ke Amsterdam jauh lebih murah daripada ke Praha haha. Saya (of course, dan teman-teman) awalnya sempat intimidate Amsterdam banget kenapa jadinya ke Belanda dan  tak lupa kecewa karena nggak jadi mau foto-foto bikin tulisan di kertas "Kapan ke sini bareng?" dengan background Menara Eiffel. Well, itu teman saya sih yang bilang lol. Tapiiiiii, tiada sangka tiada duga, Amsterdam jadi kota terfavorit saya dan bahkan hampir semua dari kita! Saya nggak tahu persisnya sih ya kenapa malah Amsterdam jadi yang terfavorit, tapi mungkin emang gitu, semakin kita nggak punya ekspektasi tinggi sama sesuatu maka kita akan semakin nggak mudah kecewa eaa paanci.


Amsterdam dari atas tapi yg ini dari gugel
Begitu Kapten Pesawat mengumumkan pesawat akan segera landing, saya pun bersiap-siap memakai jaket karena di sana sedang Autumn alias musim gugur dan sudah hampir musim dingin (Waktu itu sempat mencapai 0 derajat celcius!). Dari ketinggian, saya lihat ke bawah bertanya-tanya kenapa bangunannya tersusun sangat sangat tertata huhu. Turun dari pesawat, saya sudah siap-siap kedinginan dong ya, eh taunya malah enggak. Kan masih di dalem bandara, ada heater-nya, angetlah #emangngeselinanaknya. Keluar dari bandara, saya, kebetulan, langsung disambut keramah-tamahan orang Belanda. Awalnya, saya nanya ke Satpam (?) Bandara tentang rute bis, setelah dikasih tahu, dia nanya (lebih tepatnya nebak) saya dari mana. Begitu tahu saya dari Indonesia, dia langsung bilang kalau dia pernah ke Indo dan sudah pengen banget mau ke Indo lagi. Wow, how ironic.


Amsterdam Schipol
Dua hari di Amsterdam, saya merasa puas. Amsterdam adalah ekspektasi saya tentang Eropa. Bangunannya klasik, rapih, lucu, berudara dingin. Lalu, ada banyak kanal alias sungai yang jadi bikin syahdu. Ditambah lagi ada banyak pesepeda berkeliaran, ya walaupun pada cepet-cepet udah kaya maling sepeda bikin kaget pas jalan. Kotanya ramai, orang-orang pada bisa bahasa Inggris jadi komunikasinya mudah, sering ketemu orang Indo, sering ketemu orang pake hijab juga. Saya sering baca blog atau cerita orang yang katanya kalau di luar negeri trus ketemu sesama muslim dan disapa Assalamualaikum itu rasanya sesuatu. Awalnya saya mikir ya make sense sih, tapi enggak nyangka bakal seterharu itu huhu. Nah, di Amsterdam ini, teman-teman saya ketemu Syahrini di Dam Square wkwkwk. Saya lagi melancong nggak tau ke mana. Malam sebelumnya, ketemu Ben Joshua pas kita lagi cari makan malam. Ini Belanda apa Indo deh.


Dam Square
Kota berikutnya adalah Praha. Dari Amsterdam ke Praha naik Flixbus soalnya jauh lebih murah daripada naik kereta atau pesawat wkwk. Naik kereta di Eropa buat budget traveler itu nggak recommended sih. Flixbus/Regiojet/Euroline adalah jawabannya bagi para kere-ers lol ya walaupun tetap lebib mahal juga kalau dibandingin bis Indo. Makanya jangan dibandingin haha.
Nah, karena saya sudah dapat banyak dengar kalau Praha itu kota yang cantik, fairytale, magical, romantis, dsb, saya jadi berekspektasi tinggi sama Praha. Entah karena ekspektasi dan fantasi saya terlalu tinggi atau gimana, saya merasa Praha nggak lebih cantik dari Amsterdam. Satu-satunya yang memenuhi ekspektasi adalah Old Town-nya. Ya emang bagus sih Old Town. Bangunan (gerejanya) sangat klasik dan gotik. Keren gitu deh. Praha ini kota terlama yang saya tempati. Orang-orangnya banyak yang nggak bisa bahasa Inggris. Saya bahkan nggak sengaja makan daging babi pas sarapan di Hotel, padahal saya udah jelas-jelas nanya ke pelayannya, "Is this beef or bacon?" doi jawab, "Beef," lalu saya langsung koar-koar ke teman-teman saya ngasih tau kalau dagingnya sapi. Eeeh taunya, pas LO saya datang dan saya make sure nanya ini sapi bukan, ternyata bukan. LO saya bilang, "I think you should change your meal because it's apparently bacon," setelah dia nanya lagi ke resto hotelnya. Tapi bacon enak btw huhu.
Karena Praha bukan kota sebesar Amsterdam, orang-orang yang saya temui di sana juga nggak seheterogen di Amsterdam. Hampir white people semua. Sangat jarang menemukan orang berhijab, jadi sekalinya ketemu, langsung berasa ketemu saudara, ramah banget. Di Praha, saya sama sekali nggak menemukan orang bersepeda atau bersepeda motor. Saya curiga di sana cuma jual mobil aja(?) Selama di Praha, saya sempat ke Teplice (masih di Ceko juga), karena ada agenda di sana. Nggak kemana-mana juga sih pas di Teplice karena seharian full acara di sana.


In Teplice
Terlepas dari kurang terpenuhinya ekspektasi saya atas Praha dan dimarahin orang sana dan hal-hal lain yang kurang mengenakkan lainnnya, Praha tetap memorable dengan kenangannya. It was worth visiting.



Old Town
Kota berikutnya yang saya kunjungi adalah Berlin. Perjalanan dari Praha ke Berlin tetap menggunakan bis. Kali ini saya pakai Regiojet. Lebih mahal dari Flixbus, tapi Regiojet ini wifi-nya nyala dan guide-nya ganteng parah. Egmn. Tapi beneran deh ya, kalau orang Bandung bilang sepertinya Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan Bandung, saya bakal bilang sepertinya Tuhan sedang bahagia ketika menciptakan orang-orang Eropa haha. Ganteng-ganteng dan cantik-cantik sejauh mata memandang huhu. Selain guide-nya, sopirnya juga ramah. Entah perasaan saya doang apa gimana, kayanya orang Jerman jauh lebih ramah daripada orang Ceko.

Urutan kunjungan saya ini kayanya merepresentasikan urutan kota yang saya sukai. Dulu saya suka berfantasi mau tinggal di Jerman. Negara Uni Eropa urutan teratas. Tapi ternyata, nggak lebih klasik dari Praha. Don't get me wrong. Ini kan opini pribadi hehe. Mungkin saya sudah semakin terbiasa dengan bangunan Eropa (yaelah gaya beut botol kecap), jadinya saya nggak melihat bangunan yang terlihat outstanding di Berlin. Malah, saya melihat Berlin ini seketika teringat Jakarta. Agak berantakan dan lebih metropolis dibanding Praha dan Amsterdam. Saya melihat beberapa spot kaya nggak terurus gitu. Eh atau lagi dibangun ya? Nggak tau lah, pokoknya menurut saya, Berlin nggak seperti dalam fantasi saya. Ya walaupun tetap dong ya, Eropa adalah Eropa. Nggak ada yang menandingi keklasikannya. Saya cuma dua hari di Berlin, jadi opini saya tentang Berlin tentu sangat terbatas. Di Berlin, orang-orangnya lebih heterogen bahkan dari Amsterdam. Sering banget menjumpai orang berhijab, ya secara imigran Turki paling banyaknya ke Jerman. Kotanya sangat ramai. Apalagi pas di Primark. Murah-murah sih soalnya cem Jolie/Sakola kalau di Jogja wkwk. Btw, kalau sistem transportasi, di ketiga kota itu mirip sih. Ada kereta bawah tanah, trem (kereta yang malang melintang di jalan), dan bis. Yang jelas, transportasi umum di sana jauh sama di Indo haha and I felt like I was cool using public transport lol. 


Typical tourist
Setelah serangkaian kunjungan itu, akhirnya saya kembali lagi ke Amsterdam karena pesawatnya dari Amsterdam. Dan nggak tahu ya, saya bahagia banget sih pas balik ke Amsterdam. Rasanya tuh kaya ya ampun akhirnya ke Amsterdam lagi dan ini udah mau balik Indo, enggak mauuuuuu.

Dari Berlin, saya sampai di Amsterdam pagi hari. Pesawat saya sore, jadi saya punya waktu seharian buat menikmati Amsterdam. Cry. Udah nggak keitung saya dan teman-teman saya bolak-balik ke Albert Hejn (Baca: Indomaret) buat beli coklat. Begitu balik ke tempat tunggu dan masih menemukan euro kita masih tersisa, kita balik lagi beli buah. Buahnya enak, akhirnya kita malakin anak-anak yang masih punya recehan euro. Patungan, beli lagi buah sampai berkali-kali. Sampai pelayannya bosen juga kita lagi kita lagi lol. Dan akhirnya kita patungan buat beli makan: Nasi Goreng Sataj Ajam. Gitu tulisannya. Lumayan enak. Tapi ya of courseeee, rasanya jauh sama yang di Indo haha mahal uga 5/6 euro gitu saya lupa.



Begitu saya selesai menulis ini, ternyata panjang uga ya. Padahal ini baru highlight. Masih ada banyak hal yang terkenang di kepala. Mungkin saya bakal bikin postingan lagi untuk cerita yang lebih detail karena masih ada hal-hal yang bikin saya merasa insightful!

Minggu, 23 April 2017

A Moment to Reflect

It's one week to go till I'm exactly turning 23. No, this is not a reminder or something to remind everyone about my day. This is a kind of, let's say, the way I'm trying to reminisce and reflect what I've done and I have had to be.

I suddenly remember one moment when my Indian buddy told me at my birthday, "You're not getting older, but you're just a little closer to death," and it was somewhat stabbing my chest cause yeah, what to celebrate when you're actually getting closer to death? Since then, I never really hype my birthday.

A moment later I look back into myself then see how I'd been afraid too much of everything, like every-single-thing. And another moment I realized that I have changed so much than I used to be.
I used to have that typical thought to please every single one I know and even I meet, to look good in their eyes, and even to be the way they want me to be. Until I started my uni-life that led me to know people who are careless. No, it's not carelessness about their own life but rather not to care about what other people think of them. Until I started to have experienced a whole new world that I've never been to. Until I read what I have never imagined I'm gonna be interested in. Until I come at the point that I realize each of us simply live our own life which has nothing to do with others'. It's nothing like my life is better/worse than yours. It's only a matter of understanding in seeing the ups and downs after all. The hard time I've been through and the happy moments I've had are only in a way God tells me how life wouldn't feel happy unless I've encountered sadness. And so it's just an understanding to embrace every single moment that happens.

I look back again to myself, and then I know that changes are persistent. Maybe I think I've changed much but it doesn't stop there. Most probably because time doesn't stop lingering that always forces me to deal with everything I'm facing. I no longer see myself as passionate as I was. Instead, I become more reckless and choose to let everything flow the way it does. I don't know which is better tho.

Most of moments I think about my existence which leads me to question how much I've been beneficial to my surroundings. Then I feel insecure when I find that I've been doing nothing instead. I still can't help to think: do I live the life I want? Have I done things I supposed to? Is my life worth living? But yeah, they say it's one typical phase that people will encounter when they reach early 20s.

Jumat, 23 Desember 2016

December


It feels like years I didn't write any posts here for these past months. I always thought that I had no time doing this while it's actually a matter of making it or not. Until I realize that it's already December! The last month we have in one year. Time to throw it back.



There are many things to learn, many people I met, many great experiences I got, and by then I have so much to reflect from them. I can feel the endless love of my family through their prayers. I can see the friends that have been so supportive to me in this year. Aya for being a friend that I can talk literally everything, Geri for being  there when I need her, Sarah that has the same humor as mine and is a good listener for each drama I told her, Fulan who's been a partner in struggling both academic and the organization we join,  and of course each member of them that we have a group chat called 'Nyinyirism" who's been being supportive and lovely and funny as hell and sarcastic af, and still philosophical (?). Like seriously, I have no idea how my Jogja-life would be without them. For the friends of Sansenku that still have a place to me even when I've been far away from them to which then I feel home when I'm back. Fikfik who's been annoying haha yet soooo nice. My temen SD, Iin and Ayu, who can reduce miseries lol by doing 'our things'. My temen SMA, Inayah, Bolo-bolo, Nora, and Bitul who have been moodboosters when I'm home. Grup Gak Jelas Kabeh contaning Unonk, Rendra, and Sarah (lagi) yang mau aja diajak kemana-mana. My temen KKN, Arum for being really good, Irham and Imam for being friends of bersenang-senang. Meng for being a friend full of wacana haha yet still pleasing to talk to. Mba Dara and Rani that I always enjoy to have time together. Also, all the beutiful souls I met on my road. And of course, Rampoe UGM for allowing me to find anything wider and greater. Ah I have a bunch of love for each of them :')

"Nyinyirism"

Some of Sansenku

Meng

I thank God for every single thing I've got though sometimes things are out of control like I haven't graduated yet lol (only by this time I can laugh it away lol), I haven't found that one person I can lean on and feel completed LOL tetep ya, reading an an amount of books, writing more on the blog, and other things I wish to gain in this year.

My 2016 was much dominated by working hard, struggling, and even suffering with these people.

That team :')

Started by earlier this year, we began our journey. Nothing was easy, but who knows that God would give this team a huge blessing during the process. And so, I personally gain a lot to learn. Like A-LOT. It felt so consuming at the beginning, but since we walked together hand in hand, it became one of (maybe) our memorable moments in our life at the end of the day. Maybe by next time I will write the clearer details on how we had suffered struggled. Lol.


Strongest girls

That was a glimpse of what comes to my mind summing up my 2016. I'm that conservative person who writes my resolution by the end of the year for the upcoming year. And now I will do the same. I think, somehow, it can remind me to keep moving forward, to not giving them up while in the middle of struggling.

I'm so glad to have had those experiences, to have been surrounded by the people I've mentioned, to have met nice strangers, and to have learned so much from them. Also, I'm so glad to have ticked most of things in my to do list for this year though there are still several things I let them clear without any ticks. I'm a believer of 'God Timing is always the best', even when I don't get the things I want. I tried my best, but God knows best. And somehow that is what makes me relieved.

Time flies so fast. It keeps lingering no matter how much we try to stop it. There's no way back, there's nothing to escape. New year is coming. Feel the enthusiasm to welcome it then keep it stay in our souls during the whole year.




Kamis, 11 Agustus 2016

Pernikahan Dini

Seiring dengan tayangnya kembali sinetron Pernikahan Dini, entah kenapa bisa kebetulan juga lagi in mengenai pernikahan Alvin, anaknya Ustadz Arifin Ilham, yang mana dia masih di bawah umur menurut Undang-undang. Berita ini cukup menuai pro dan kontra. Apa penyebabnya? Tidak lain tidak bukan karena umur itu sendiri sih. Saya sendiri berpendapat kalau tidak ada yang salah dari menikah muda. Setiap orang berhak untuk memutuskan kapan dan di umur berapa mereka menikah. Namun, menurut saya, menikah bukanlah suatu hal yang bisa tidak kita pikirkan matang-matang karena ada banyak konsekuensi yang akan diambil ketika kita sudah tidak hidup ‘seorang diri’.

Saya memang tidak mengikuti berita pernikahan Alvin ini dari awal. Kebetulan pas saya nonton Alvin diwawancara, dia mengatakan sangat menyayangkan seks bebas yang terjadi di kalangan remaja. Daripada zinah, mending langsung nikah saja bisa jadi ibadah. Ya, saya memang dengar alasannya setengah-setengah gitu sih. Jadi kalau ada kesalahan dari opini saya, ya itu datangnya dari saya pribadi bukan siapa-siapa.
Pokok ‘permasalahan’ dari pernikahan dini adalah umur. Mungkin kalau pernikahan kakaknya dini mah boleh kali ya karena lebih tua dari dini huhu jayus. Menurut undang-undang, laki-laki boleh menikah ketika sudah berumur 19 tahun dan perempuan 16 tahun. CMIIW. Pada umumnya, seseorang akan lulus SMA pada umur 17 tahun, maka di umur 19 tahun diharapkan seseorang setidaknya mempunyai penghasilan jika ia memutuskan untuk tidak melanjutkan studi. Saya rasa, undang-undang menetapkan umur untuk pernikahan bukanlah tanpa pertimbangan. Itu pun semata-mata sebagai upaya ‘mensejahterakan’ penduduknya. Diputuskannya umur tertentu adalah mungkin salah satu upaya pemerintah untuk memastikan bahwa penduduknya sudah cukup siap finansial untuk melakukan pernikahan.

Yup, hal pokok selanjutnya adalah finansial. Seseorang yang sudah menikah, rasa-rasanya janggal jika masih bertumpu pada orang tuanya. Suka atau tidak, menikah itu butuh uang. Untuk menghidupi kita sendiri, pasangan, dan anak-anak kelak. Baik untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti makan, tempat tinggal, dan pakaian maupun kebutuhan sekunder seperti pendidikan, hiburan, dan lain sebagainya. Se-belia apa pun umur kita, mau tidak mau kita harus siap untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Selain itu, di umur yang masih belia, sudahkah cukup siap untuk selanjutnya menghadapi persoalan-persoalan hidup yang bukan lagi hanya mengenai kepentingan pribadi? Saya sangat setuju dengan pernyataan “Kedewasaan tidak bisa ditentukan dari umur”, tapi juga sepanjang saya hidup 22 tahun di dunia ini, saya menemukan bahwa umur juga tidak bisa dibohongi. Saya punya teman sebaya, tapi dia bisa sangat bijak dan dewasa lebih dari saya. Namun, umur tetaplah berbicara. Ada kalanya ia terlihat manja dan masih ‘kanak-kanak’. Dan sekanak-kanaknya seseorang, kalau dia sudah cukup berumur, dia akan ada kalanya bertindak dewasa. I hope you get my point.

Lagi-lagi menurut saya, menikah bukanlah hal tanpa konsekuensi. Kita tak lagi bisa memikirkan diri kita sendiri, ada pasangan yang juga harus kita pikirkan. Mau tidak mau, kita pun akan sedikit banyak berkorban atas apa yang akan kita putuskan. Yang mana, sadar atau tidak, kita akan sedikit banyak mengorbankan satu dan lain hal. Sekolah misalnya. Memang, kita masih bisa tetap bisa mengambil S1, S2, dan seterusnya, tapi tentu saja pasangan dan anak adalah sudah menjadi prioritas utama kita. Menikah juga bukan hanya urusan individu yang ingin menikah. Ada keluarga dari masing-masing pihak yang perlu kita hadapi yang mana kadang itu juga tidak sesederhana yang kita pikirkan.

Tidak ada yang salah dari menikah muda jika sudah siap dengan segala konsekuensinya. Tapi saya pun cukup menyayangkan kalau alasan menikah hanyalah untuk mencegah zinah. Menurut saya yang ilmu agamanya tidak lebih besar dari ukuran semut, rasa-rasanya masih banyak ibadah yang bisa mencegah dari perbuatan zinah. Contoh yang paling esensial adalah sholat. Kalau kita memahami seluruh isi bacaan sholat bukan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban, saya rasa, kita akan merasa menjadi sebenar-benarnya budak Allah dan mengabdi seluruh jiwa raga kita kepada Allah yang mana jelas, kita akan berusaha melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya termasuk zinah. Hal selanjutnya yang bisa kita lakukan adalah dzikir. Dengan dzikir, kita jadi mengingat Allah. Jika Allah sudah memenuhi hati dan pikiran kita, kita akan selalu merasa Allah melihat kita kapan dan di mana pun ya masa mau zinah kan? Atau, kita bisa melakukan ibadah lain yang memang tujuannya untuk mengendalikan nafsu kita: puasa. Jangankan untuk memenuhi nafsu birahi, buat makan minum aja nggak boleh kan kalau kita lagi puasa? Dan yang terakhir, yang paling ‘ngena’ menurut saya: ingat mati. Udahlah, kalau ingat mati mah mau kita lagi jungkir balik ngakak kaya apa pun juga langsung bisa kicep. Kalau kita ingat mati, boro-boro mikirin gegalauan apalagi zinah nggak sih? Yang ada kita langsung merinding dan bawaannya pengen taubat aja berharap jiwa kita bersih dari segala dosa yang padahal kalau denger adzan aja masih mager buat cepet-cepet sholat huhu. Intinya, banyak ibadah lain yang bisa kita lakukan kalau hanya untuk mencegah zinah. Ingat loh ya, ‘kalau hanya’. Tapi jika ternyata keinginan menikah lebih dari itu, ya silakan boleh banget banget. Apalagi jika semua rukun nikah sudah terpenuhi, punya penghasilan cukup, dan siap akan segala konsekuensi minimal yang saya sebutkan di atas, mau berapa pun umurnya, ya sah-sah saja. Dan mungkin itu lah yang terjadi pada Alvin. Dia sudah sesiap itu. Saya juga aslinya pengen nikah muda kok, cuman kan ada beberapa rukun nikah yang harus terpenuhi. Yang pertama, mempelai wanita. Yang kedua, mempelai pria. Nah, baru syarat kedua aja saya masih belum mampu, jadi yaudah, gagal mau nikah muda hahahaha cry. Gak ding, canda.

Di benak saya, menikah adalah ibadah yang bukan hanya untuk mencegah zinah. Butuh kesiapan lahir dan batin untuk mengarungi tingkat kehidupan yang lebih ‘dewasa’ ini. Namun, saya bukanlah ukhti-ukhti sholehah yang ilmu agamanya udah tinggi. Bahkan kalau dosa bisa kecium, mungkin dosa saya udah kecium sekali pun kamu lagi di Afrika karena saking banyaknya dosa saya huhu. Opini ini datangnya dari manusia biasa yang masih haus akan ilmu fiqih dan pemahaman aqidah. Kalau pun tidak sesuai, ya mohon dimaklumi dan diingatkan. Lagian, ini mah cuma pencitraan aja ding.

Rabu, 13 Juli 2016

Jogja at a Glance

Courtesy: jogjangangeni.com

Nggak pernah terpikirkan untuk saya bisa tinggal di Kota Pelajar ini. Karena dulu emang nggak begitu berambisi buat milih satu kota tertentu untuk ditinggali selama kuliah. Dan karena 'kebetulan' universitas idaman saya nggak berada di Jogja, jadi aja saya nggak naksir-naksir amat dengan kota sejuta Gudeg ini. Long story short, saya random aja gitu memilih UNY sebagai pilihan kedua saya dalam SNMPTN. Dan yup! Pilihan pertama saya menolak saya hingga saya bisa berada di sini. It's almost been 4 years!! 

Kesan pertama ketika menginjakkan kaki di Jogja setelah bertahun-tahun nggak ke sini adalah medhok. Dulu saya selalu menganggap bahasa Cirebon adalah bahasa Jawa. Orang-orang Cirebon pun akan prefer menyebut bahasa Jawa untuk merujuk ke bahasa Cirebon. Padahal ketika pertama saya dengar orang-orang ngobrol pakai bahasa Jawa, saya benar-benar roaming dan in complete confusion. Dan lebih bingung lagi, ketika saya kenalan sama orang, dia mengira kalau Cirebon itu ngapak. I was like, "What?!"  Ngapak itu apa aja saya nggak tau. Hufff. Tapi kemudian, saya benar-benar salut sama penduduk lokal karena mereka sangat mempertahankan bahasa ibu mereka. Dari anak kecil, anak muda,  ibu-ibu, bapak-bapak, sampai embah-embah dan dari tukang becak, pelajar, mahasiswa, sampai pengusaha dan pejabat, mereka semua nggak ragu untuk berkomunikasi dengan bahasa Jawa di mana pun mereka berada. Bahkan teman kuliah saya pernah mengatakan kalau dia bangga menjadi orang Jawa dan berbahasa Jawa. And I super really totally apreciate that. Karena entah kenapa di Cirebon, para anak muda dan agabon-ers (anak gaul Cirebon) akan merasa malu untuk berbahasa Cirebon. It's really sad, right? And I'm like, "If you think that using Cirebonese is hick, you'd better go to Jawa or probably Bandung to see how proud the local people are using their own mother tounge. And if you still think it's hick, you should go and f**k yourself. Seriously!"  Haha.

Selain kental dengan bahasa Jawanya. Jogja pun terkenal dengan keramah-tamahannya. Dulu saya sempat kaget begitu saya beli sesuatu dan penjualnya bilang, "Bawa aja dulu, Mba, nggak ada kembaliannya. Mbanya ninggal di sini." What?! Saya itu orang asing lho, kok ya bisa langsung percaya gitu aja. Kalau saya lupa atau bahkan nggak mau bayar sekalian gimana? Rasa-rasanya kalau di Cirebon, si penjual akan mencarikan kembalian sekalipun harus menukar ke mana dulu, ya kecuali kalau sama orang yang udah dikenal.

Sejauh saya punya teman-teman yang orang Jogja, mereka lebih nggak konsumtif, sederhana, dan bersahaja eaak. Dari cara berpakaian sampai gaya hidup, mereka nggak terlalu ngoyo untuk mengikuti tren yang lagi hits. Ya walaupun tetep aja ada yang mencoba hits, tapi kalau dari yang saya liat, kebanyakan mereka nggak terlalu konsumtif sama kemodernan. Ini bisa jadi rem banget buat saya yang bergaul juga sama orang-orang Jawa Barat yang cenderung sangat mengikuti tren dan lebih konsumtif. Hmm.

Hal penting lainnya adalah makanan khas.  Udah pasti dong ya semua orang tau kalau Jogja terkenal dengan Gudegnya. Tapi sampai saat ini, saya nggak doyan sama Gudeg. Bahkan Gudeg adalah salah satu makanan yang saya hindari. Saya keburu nolak duluan kalau diajak makan Gudeg. Haha. Sebenernya, saya pernah nyoba sih beli Gudeg, dan lumayan. Lumayan nggak doyan maksudnya haha nggak deng. Tapi saya keburu parno duluan sama tingkat kemanisan lauk yang dicampur nasi. Karena di sini, masak sayur dan lauk itu wajib hukumnya pakai gula dengan takaran yang menurut saya banyak. Waktu itu saya pernah main ke rumah seorang teman di Bantul yang kemudian saya disuguhi sop. Saya langsung aja tuh kan ngasih air sop banyak ke mangkuk nasi saya, eh begitu saya makan, gila manis banget! Itu sop udah kaya kuah es campur aja deh. Sampai akhirnya saya jadi nggak nafsu buat ngehabisin padahal lagi laper haha. Tapi btw, saya prefer banget ke Angkringan. Nggak ke Jogja kalo nggak ke Angkringan. Suasana lesehan di pinggir jalan malem-malemnya itu loh yang kerasa njogja banget. Murah meriah lagi. Uuuw.

Menurut saya, Jogja itu paket komplit. Saya bisa sok-sokan hedon nongkrong di Mall dan bisa juga sok-sokan jadi anak bolang yang menjelajah tempat-tempat alam yang nggak ada habisnya. Dari pantai pasir hitam, pasir putih, air terjun, gumuk pasir yang katanya cuma ada di dua tempat di dunia (?), goa, gunung, sawah, hutan, you name it lah, ibaratnya, apa sih yang nggak ada? Yang nggak ada, aku di hatimu sih. Pergi ke tempat-tempat itu bisa jadi penyegaran buat otak banget di sela-sela pusingnya kuliah dan ruwetnya berurusan sama tanggungan yang kadang bikin super gemaz pengen makan tahu bulat (?). Dan yang paling penting, masih tetap ekonomis buat kantong mahasiswa haha. Paling untuk uang bensin dan uang tiket masuk yang masih masuk akal. Tapi btw, pertumbuhan mall di Jogja cukup pesat juga. Dulu awal ke sini, saya nggak menemukan banyak mall. Malahan, Cirebon lebih punya banyak mall daripada Jogja. Tapi sekarang, mall udah kaya jamur di musim hujan. Langsung banyak bermunculan aja gitu. Tempat-tempat gaul dan hits pun mulai amat banyak bermunculan. Tapi eksistensi Burjo masih pada level tertinggi kok buat mahasiswa dan anak kos. Jadi ya tinggal pilih, mau nongkrong-nongkrong unyu di tempat hits, hedon di mall, sok-sokan jadi anak my trip my adventure, atau nongkrong merakyat di Burjo haha.

Dan terakhir, yang paling iconic banget dari Jogja adalah Malioboro. Ya siapa sih yang ke Jogja tapi nggak ada itinerary untuk datang ke Malioboro? Dulu, jaman SD pas baru pertama kali mau ke Malioboro, saya pikir Malioboro itu tempat apa, eh ternyata cuma tempat belanja doang wkwk. Tapi, setelah udah lama di sini, baru kerasa tuh kalau suasana jalanan Malioboro nggak ada duanya. Bau khas dari delman, suara angklung Banyumas-an, dan keramaian para turis domestik dan mancanegara udah jadi khas Malioboro banget. Dan saya nggak menemukan tempat sesyahdu Malioboro yang bikin saya seketika jadi recall all  memories yang saya lalui di Jogja eaak.

Saya rasa, Jogja nggak akan mungkin menyandang titel 'Kota Pelajar' kalau kotanya nggak ramah buat para pendatang khususnya pelajar dan mahasiswa. Sampai saat ini, ada banyak universitas dan para pendatang dari berbagai kota di seluruh Indonesia bahkan luar negeri. Yang mana itu menunjukkan kalau Jogja emang kota yang worth living. Makanya saya nggak ngerti ketika kemarin sempat heboh berita tentang mahasiswa S2 UGM yang menjelek-jelekkan warga Jogja di POM bensin itu. Selama isu itu berlangsung, banyak mahasiswa, dan bahkan hampir semua, kontra dengan Mba berinisial F itu. Jadi mungkin, Mbanya aja kali yang musti berkaca diri wkwk no offense sih.

Walaupun Jogja bukan kota yang saya idamkan dari awal, I ended up feeling so grateful to get the chance living here! Jogja udah jadi kota yang sangat nyaman untuk ditinggali sekaligus jadi gerbang awal saya buat mendapat pengalaman yang udah nggak keitung jumlahnya. Saya bisa jamin sih, nggak akan ada orang yang pernah tinggal di Jogja yang nggak mau balik lagi ke Jogja.